Thursday, June 27, 2013

Cinta Tak Lekang Oleh Usia

            Aku Dela. Wanita berambut cokelat indah, kata ibu. Wanita berbola mata hitam lekat berbinar, kata ayah. Wanita berkulit putih mulus nan cantik, kata kak Far. Wanita berbadan ideal menjulang tinggi bagai model, kata Dizzi. Namun, berpenyakit kanker otak stadium lanjut, kata dr. Barton. Sudah 24 tahun aku hidup di dunia. Dan sudah 17 tahun aku divonis mengidap penyakit mematikan itu dan harus meminum obat-obatan ini. “Aku sudah bosan dengan ini semua, bu. Aku ingin bebas seperti wanita yang lain. Bebas melakukan aktivitas apapun. Aku mau nikah, bu. Aku mau ada yang mendampingiku selalu. Aku mau punya banyak anak. Aku gak mau terus-terusan dikekang begini. Aku jenuh, bu”, kataku dengan jujur pada ibu yang sudah kulitnya sudah mulai mengeriput dan rambutnya yang pendek beruban itu. Yang sudah melahirkanku 24 tahun yang lalu. Yang sudah mengasuhku selama 24 tahun ini. Dan selama 24 tahun ini pula, aku tidak diperbolehkan mencari kekasih yang aku impikan. Hingga detik inipun aku masih belum tau kenapa ibu selalu melarangku untuk urusan itu.
           
Ibuku adalah sosok yang amat berhati-hati dalam segala apa yang dia lalui. Apalagi sejak dulu aku sering pusing, pingsan, dan mimisan. Ibu hampir pernah ingin memberhentikan aku dari segala aktivitasku, termasuk sekolahku. Dan terjadilah. Aku menggantikan sekolahku dengan home schooling. Itupun cuman 1 kali seminggu.
           
Ayah sudah tiada. Dia meninggal karna serangan jantung setelah dia mendengar bahwa umur aku gak akan lama. Tapi dia sosok yang luar biasa. Dia pernah bilang sama aku sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya, “kamu harus lawak penyakit kamu itu, nak. Jangan pernah kamu manjakan penyakit itu. Semakin kamu manjakan, maka kanker itu akan semakin kuat. Tapi kalau kamu lawan, kanker itu gak akan pernah berani nyakitin kamu”. Itulah motivasi aku untuk bertahan hidup.
           
Kakakku.. dia sosok yang ramah, pintar, cantik, tinggi seperti aku, dan untungnya dia adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Jadi kalau aku ada jadwal kemoterapi, pasti selalu ada diskon. Hihihi..
           
Kalau adikku? Diapun juga udah gak ada. Dia meningal saat dia umur 14 tahun. Saat itu dia lagi main motor sama temennya. Dan kecelakaan motor itulah yang menyebabkan pendarahan yang cukup parah di otaknya. Hanya selang 3 hari setelah kejadian itu, dia harus pergi nyusul ayah di surga. Berat rasanya harus ditinggalin sama 2 orang yang paling hebat, paling luar biasa, dan paling ku cintai. Sampai aku pernah berpikir, “aku yang mengidap sakit parah, aku yang tidak memiliki banyak waktu lagi, aku yang selalu merasa lemah di antara mereka, tapi kenapa ayah dan Dizzi yang harus dipanggil duluan?” Saat itu aku gak bisa nerima kenyataan lagi. Sampe pernah aku coba untuk bunuh diri di pohon belakang rumahku. Tapi Tuhan masih terlalu sayang sama aku. Dia mengirimkan pria bernama Ashar yang datang dengan kaus hitam dan jeans levis. Dia rela melompat dinding halaman rumahku yang cukup tinggi, demi menyelamatkan wanita yang sudah cukup frustasi dan sudah mau mati. Sejak kejadian itupun aku dan Ashar berteman baik. Kami jadi lebih intensif berkomunikasi, kadang dia suka main kerumah, kadang dia suka ngegombalin aku dan tanpa sadar aku mulai merasakan ada rasa yang amat aneh di hati. Aku sempat berpikir, mungkin ini yang dinamakan cinta.
           
Hingga suatu saat, Ashar menyatakan cintanya. Saat itu aku merasa senang gak karuan, senang karna ternyata selama ini cintaku gak bertepuk sebelah tangan. Cintaku dibalas. Tapi pada saat itu pula, aku merasa bingung. Bingung karna selama ini, aku tidak diperbolehkan berpacaran sama ibu. Aku takut nanti ketauan kalo ternyata aku melanggar peraturannya. Tapi rasa ini terlalu gila. Terlalu menggebu-gebu. Dalam hati aku berkata, “Tuhan.. aku harus apa? Aku harus gimana?” Gelisah, galau, dan merana bercampur jadi satu.
           
Seminggu sudah berlalu. Ashar terus menanyakan apa jawabanku. Apakah aku menerimanya atau malah menolaknya. Hingga detik ini, Ashar belum tau ada penyakit jahat yang menggerogoti otakku. Selama ini dia suka nanya kalau aku lagi minum obat. “itu obat apaan sih, del? Kok kayaknya kamu ketergantungan banget sama obat itu?” Saat itu aku bingung, panik, dan sebagainya. Aku berpikir jawaban apa yang harus aku jawab. Akhirnya, “ini cuman vitamin kok. Aku kan orangnya gampang kena penyakit, jadi harus pinter-pinter jaga badan. Hehehehe”, kataku berbohong.
           
“iya Shar, aku terima”, kataku. Namun itu belum selesai, “tapi aku mau kita backstreet dulu ya. Aku gak mau ada yang tau. Biar ini jadi rahasia Tuhan, aku, dan kamu ya”. Tanpa berpikir kenapa aku maunya backstreet, Ashar menjawab, “iya sayangku..” Itulah kata ‘sayang’ pertama setelah kata ‘sayang dari ayah dan ibu.
           
4 tahun kemudian...
           
Gak kerasa udah 4 tahun aku dan Ashar pacaran dan backstreet. Dan di tahun yang ke 21 penyakitku ini, rambutku semakin botak karna efek kemoterapi. Tanganku mulai sulit untuk menggenggam benda. Dan kakiku mulai sulit untuk berjalan. Apakah ini pertanda bahwa ajalku semakin dekat? Aku belum siap. Masih banyak misteri di hidup aku yang harus aku selesaikan. Yang pertama, soal aku tidak pernah memperkenalkan Ashar kepada ibu sebagai pacar. Karna ibu hanya mengenal Ashar sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkan kejadian bunuh diriku waktu itu.
           
Yang kedua, soal penyakitku yang masih aku simpan baik-baik dari Ashar. Aku takut nanti dia shock denger ini. Aku takut nanti dia akan ninggalin aku karna tau kalau aku gak akan bisa menjadi pendamping dia selamanya. Aku takut akan misteri ini, tapi aku juga takut untuk mengungkapkannya. Aku takut hidupku gak akan bisa kayak gini lagi kalau nanti mereka semua tau kalau aku ini adalah penyimpan misteri yang takut akan misteri itu terbongkar. Aku pengecut.
           
Suatu hari di saat aku mulai gak berdaya. Aku menulis sepucuk surat untuk ibu dengan tangan yang sebenarnya udah semakin melemah..
           
“Ibu.. Terimakasih ibu sudah mau melahirkan anak berpenyakitan seperti aku. Terimakasih ibu sudah mau menyusuiku dikala aku kehausan dan hanya bisa merengek. Terimakasih ibu sudah mau menggendong tubuhku yang sesungguhnya amat lemah ini. Terimakasih ibu sudah mau mengecup keningku hingga ujung akar rambutku, yang sesunggunya dalam kepala ini ada hal yang amat ganas, yang suatu saat akan menjadi penyebab aku pergi. Terimakasih ibu sudah mau mengasuhku sepanjang hidupku. Aku gak tau harus membalasnya dengan apa. Tapi aku tau, ibu gak pernah meminta balasan apapun dari aku. Kecuali aku harus menuruti semua perintah ibu termasuk larangan aku berpacaran. Tapi bu.. Inilah saatnya aku membuka misteriku yang aku simpan selama 4 tahun ini. Ashar yang ibu kenal sebagai penyelamat hidup aku, kini dia adalah calon menantu ibu. Aku dan Ashar sudah menjalin hubungan selama 4 tahun. Dan dia berjanji dalam waktu dekat ini akan memperkenalkan keluarganya dengan ibu. Dia ingin mempersuntingku bu. Aku mohon ibu menerimanya dengan ikhlas, aku mencintainya bu. Kini dia juga menjadi alasan aku bertahan hidup. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya sudah melanggar peraturan ibu. Tapi aku melakukan ini untuk menyenangi sisa usiaku bu. Aku hanya ingin hidup sama seperti wanit lain di detik-detik terakhirku. Maafkan aku, bu. Dan aku sayang ibu..”
           
Kertas surat untuk ibu dibasahi dengan air mata kepedihan sekaligus ketenangan ini. Aku harap ibu bisa menerima Ashar dan memperbolehkan aku dan Ashar berumah tangga. Amin.. Surat itu aku simpan dulu sampai esok aku selesai menuls surat untuk Ashar.
           
Esok harinya aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah aku selesai sholat Subuh, aku mengambil selembar kertas putih kosong di lemari dengan susah payah. Aku berusaha agar kaki ini dapat membawaku ke lemari itu. Dan tangan ini dapat mengambil kertas dan pulpen. Setelah semuanya ku dapat, aku menulis surat berisi rahasia yang ku pendam selama ini, untuk Ashar..
           
“Muhammad Ashar, kekasih impianku.. Terimakasih kamu sudah menyelamatkan hidupku ketika aku merasa frustasi waktu itu. Terimakasih kamu sudah mau berteman denganku. Terimakasih kamu sudah memberikan perhatian yang luar biasa untukku. Terimakasih kamu sudah mau menemaniku setiap waktunya. Terimakasih kamu sudah mau mempercayai semua kebohonganku. Bohong atas apa obat-obatan itu. Bohong saat aku mimisan. Bohong saat kamu bertanya mengapa rambutku semakin menipis. Dan bohong atas penyakitku selama ini. Shar, ini saatnya aku membuka rahasiaku yang aku pendam selama aku kenal kamu. Sudah 21 tahun ini, aku hidup dengan mengidap kanker otak stadium lanjut. Obat-obatan itu adalah obat untuk mencegah kanker itu semakin ganas. Darah mimisan itu adalah darah yang selalu keluar disaat aku capek, dan itu karna kanker aku ini. Rambutku semakin tipis itu adalah efek kemoterapi aku selama ini. Dan mungkin ini adalah detik-detik terakhirku di dunia. Datanglah kerumah lusa nanti. Bawa keluargamu dan perkenalkan aku dan ibu ke mereka. Aku pastikan ibu menyetujuinya. Aku siap menjadi istrimu, Shar. Aku mencintaimu sepenuh hati..”
           
Kedua surat itu selesai. Dengan berusaha sekuat tenaga, aku meletakkan surat untuk ibu tepat di atas tempat tidurnya. Dan meletakkan surat untuk Ashar di tasnya saat tadi sore dia kerumah. Hati ini lebih tenang dari sebelumnya. Lebih lega. Tapi diatas ketenangan dan kelegaanku ini, darah mengaris dengan deras dari hidungku. Aku merasakan badanku benar-benar lemas tak berdaya. Dan aku merasa terjatuh ke lantai dan penglihatanku pun mulai gelap. Aku merasa tak hidup.
           
Ini hari dimana Ashar dan keluarganya datang. Karena aku masih terbaring lemas di tempat tidur rumah sakit, merekapun rela datang kerumah sakit demi memperkenalkan aku dan ibu dengan keluarga Ashar. Saat itu ayahnya Ashar menyampaikan tujuannya. Pertama, ingin berkenalan dengan keluargaku yang bersisakan ibu, kak Far, dan aku yang mungkin sebentar lagi meninggalkan mereka berdua. Kedua, ingin meminta izin agar Ashar bisa menjadi suamiku kelak. Dia akan menikahiku besok. Spontan, ibu langsung terkejut namun ternyata ibu merestuinya. Tapi rasanya batin ini gak yakin besok aku akan jadi seorang istri dari Ashar, seorang calon suamiku. Ada hal yang berat di hatiku.
           
Keesokan harinya...
           
Ini hari dimana calon suamiku akan mengucapkan ikrar janji sehidup semati, mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu dan keluarganya. Mengucapkannya di dalam kamar rumah sakit. Aku memaki gaun putih cantik yang menjadi turun temurun dari keluarga ibu. Ashar memakai jas putih bersih sudah duduk berhadapan dengan bapak penghulu. Jantungku berdetak amat, amat kencang. Nafasku tersenggal-senggal saat Ashar ber-ijab kabul. Akhirnya aku resmi menjadi istri dari Muhammad Ashar, saat tiba-tiba aku merasakan pusing yang hebat, darah mimisan yang keluar terus menerus dari hidungku, tanganku tak dapat digerakkan, kaki ku pun tak bisa juga. Berbicarapun juga sudah tak jelas. Ashar menghampiriku dengan wajah yang amat panik, khawatir, dan menangis. Bajuku sudah penuh darah. Aku meminta ibu juga berdiri di sebelahku. Aku berbisik di telinga ibu sambil menggenggam tangannya, “terimakasih bu, sudah merestui aku dan Ashar. Hidupku kini sempurna. Ayah dan Dizzi pasti senang melihatku memakai gaun ini walaupun mereka cuman bisa melihatku dari alam sana. Aku sayang ibu, hari ini, esok, dan seterusnya bu”, aku menyalami tangganya. Setetes air mata dan setetes darah membasahi tangan ibu.
           
Lalu ku genggam tangan Ashar dan berkata, “setelah ini semua selesai, aku minta kamu mengadopsi anak perempuan yang manis dan memberi namanya Dela juga, sama sepertiku. Agar kamu selalu ingat aku walaupun nanti kita beda dunia. Karna aku tau, aku gak bisa dan gak akan sanggup memberikanmu anak dari rahimku. Jangan pernah kamu lupa ini, cinta aku ke kamu gak akan pernah lekang oleh pendeknya usiaku. Walaupun usiaku ini boleh dibilang sebentar, tapi rasa cintaku untumu akan abadi ikut bersamaku kerumah Tuhan”. Ku kecup tangannya sambil mengatur nafasku yang semakin sesak dan tubuhku serasa terbang. Aku mengambil nafasku, dan berkata pada Ashar, “cintaku tak lekang oleh usiaku”. Saat itulah aku merasa nyawaku terbang, menyusuli ayah dan Dizzi di surga sana.
           
Cinta yang abadi dan kekal adalah cinta yang selalu mengikuti kita kemanapun kita pergi. Hingga ke akhiratpun cinta itu akan ikut terbang bersama kita.
           
Maaf bila ada kesamaan cerita atau tokoh. Tapi ini adalah hasil tulisan saya yang menggambarkan cinta abadi. Dan inilah, cinta tak lekang oleh usia J  

2 comments: