Aku
Dela. Wanita berambut cokelat indah, kata ibu. Wanita berbola mata hitam lekat
berbinar, kata ayah. Wanita berkulit putih mulus nan cantik, kata kak Far. Wanita
berbadan ideal menjulang tinggi bagai model, kata Dizzi. Namun, berpenyakit
kanker otak stadium lanjut, kata dr. Barton. Sudah 24 tahun aku hidup di dunia.
Dan sudah 17 tahun aku divonis mengidap penyakit mematikan itu dan harus
meminum obat-obatan ini. “Aku sudah bosan dengan ini semua, bu. Aku ingin bebas
seperti wanita yang lain. Bebas melakukan aktivitas apapun. Aku mau nikah, bu. Aku
mau ada yang mendampingiku selalu. Aku mau punya banyak anak. Aku gak mau
terus-terusan dikekang begini. Aku jenuh, bu”, kataku dengan jujur pada ibu
yang sudah kulitnya sudah mulai mengeriput dan rambutnya yang pendek beruban
itu. Yang sudah melahirkanku 24 tahun yang lalu. Yang sudah mengasuhku selama
24 tahun ini. Dan selama 24 tahun ini pula, aku tidak diperbolehkan mencari
kekasih yang aku impikan. Hingga detik inipun aku masih belum tau kenapa ibu
selalu melarangku untuk urusan itu.
Ibuku adalah sosok yang
amat berhati-hati dalam segala apa yang dia lalui. Apalagi sejak dulu aku
sering pusing, pingsan, dan mimisan. Ibu hampir pernah ingin memberhentikan aku
dari segala aktivitasku, termasuk sekolahku. Dan terjadilah. Aku menggantikan
sekolahku dengan home schooling. Itupun cuman 1 kali seminggu.
Ayah sudah tiada. Dia meninggal
karna serangan jantung setelah dia mendengar bahwa umur aku gak akan lama. Tapi
dia sosok yang luar biasa. Dia pernah bilang sama aku sebelum dia menghembuskan
nafas terakhirnya, “kamu harus lawak penyakit kamu itu, nak. Jangan pernah kamu
manjakan penyakit itu. Semakin kamu manjakan, maka kanker itu akan semakin
kuat. Tapi kalau kamu lawan, kanker itu gak akan pernah berani nyakitin kamu”. Itulah
motivasi aku untuk bertahan hidup.
Kakakku.. dia sosok
yang ramah, pintar, cantik, tinggi seperti aku, dan untungnya dia adalah
seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Jadi kalau aku ada
jadwal kemoterapi, pasti selalu ada diskon. Hihihi..
Kalau adikku? Diapun juga
udah gak ada. Dia meningal saat dia umur 14 tahun. Saat itu dia lagi main motor
sama temennya. Dan kecelakaan motor itulah yang menyebabkan pendarahan yang
cukup parah di otaknya. Hanya selang 3 hari setelah kejadian itu, dia harus
pergi nyusul ayah di surga. Berat rasanya harus ditinggalin sama 2 orang yang
paling hebat, paling luar biasa, dan paling ku cintai. Sampai aku pernah
berpikir, “aku yang mengidap sakit parah, aku yang tidak memiliki banyak waktu
lagi, aku yang selalu merasa lemah di antara mereka, tapi kenapa ayah dan Dizzi
yang harus dipanggil duluan?” Saat itu aku gak bisa nerima kenyataan lagi. Sampe
pernah aku coba untuk bunuh diri di pohon belakang rumahku. Tapi Tuhan masih
terlalu sayang sama aku. Dia mengirimkan pria bernama Ashar yang datang dengan
kaus hitam dan jeans levis. Dia rela melompat dinding halaman rumahku yang
cukup tinggi, demi menyelamatkan wanita yang sudah cukup frustasi dan sudah mau
mati. Sejak kejadian itupun aku dan Ashar berteman baik. Kami jadi lebih
intensif berkomunikasi, kadang dia suka main kerumah, kadang dia suka
ngegombalin aku dan tanpa sadar aku mulai merasakan ada rasa yang amat aneh di
hati. Aku sempat berpikir, mungkin ini yang dinamakan cinta.
Hingga suatu saat,
Ashar menyatakan cintanya. Saat itu aku merasa senang gak karuan, senang karna
ternyata selama ini cintaku gak bertepuk sebelah tangan. Cintaku dibalas. Tapi pada
saat itu pula, aku merasa bingung. Bingung karna selama ini, aku tidak diperbolehkan
berpacaran sama ibu. Aku takut nanti ketauan kalo ternyata aku melanggar
peraturannya. Tapi rasa ini terlalu gila. Terlalu menggebu-gebu. Dalam hati aku
berkata, “Tuhan.. aku harus apa? Aku harus gimana?” Gelisah, galau, dan merana
bercampur jadi satu.
Seminggu sudah berlalu.
Ashar terus menanyakan apa jawabanku. Apakah aku menerimanya atau malah
menolaknya. Hingga detik ini, Ashar belum tau ada penyakit jahat yang
menggerogoti otakku. Selama ini dia suka nanya kalau aku lagi minum obat. “itu
obat apaan sih, del? Kok kayaknya kamu ketergantungan banget sama obat itu?”
Saat itu aku bingung, panik, dan sebagainya. Aku berpikir jawaban apa yang
harus aku jawab. Akhirnya, “ini cuman vitamin kok. Aku kan orangnya gampang
kena penyakit, jadi harus pinter-pinter jaga badan. Hehehehe”, kataku
berbohong.
“iya Shar, aku terima”,
kataku. Namun itu belum selesai, “tapi aku mau kita backstreet dulu ya. Aku gak
mau ada yang tau. Biar ini jadi rahasia Tuhan, aku, dan kamu ya”. Tanpa berpikir
kenapa aku maunya backstreet, Ashar menjawab, “iya sayangku..” Itulah kata ‘sayang’
pertama setelah kata ‘sayang dari ayah dan ibu.
4 tahun kemudian...
Gak kerasa udah 4 tahun
aku dan Ashar pacaran dan backstreet. Dan di tahun yang ke 21 penyakitku ini,
rambutku semakin botak karna efek kemoterapi. Tanganku mulai sulit untuk
menggenggam benda. Dan kakiku mulai sulit untuk berjalan. Apakah ini pertanda
bahwa ajalku semakin dekat? Aku belum siap. Masih banyak misteri di hidup aku
yang harus aku selesaikan. Yang pertama, soal aku tidak pernah memperkenalkan
Ashar kepada ibu sebagai pacar. Karna ibu hanya mengenal Ashar sebagai pahlawan
yang sudah menyelamatkan kejadian bunuh diriku waktu itu.
Yang kedua, soal
penyakitku yang masih aku simpan baik-baik dari Ashar. Aku takut nanti dia
shock denger ini. Aku takut nanti dia akan ninggalin aku karna tau kalau aku
gak akan bisa menjadi pendamping dia selamanya. Aku takut akan misteri ini,
tapi aku juga takut untuk mengungkapkannya. Aku takut hidupku gak akan bisa
kayak gini lagi kalau nanti mereka semua tau kalau aku ini adalah penyimpan
misteri yang takut akan misteri itu terbongkar. Aku pengecut.
Suatu hari di saat aku
mulai gak berdaya. Aku menulis sepucuk surat untuk ibu dengan tangan yang
sebenarnya udah semakin melemah..
“Ibu.. Terimakasih ibu
sudah mau melahirkan anak berpenyakitan seperti aku. Terimakasih ibu sudah mau
menyusuiku dikala aku kehausan dan hanya bisa merengek. Terimakasih ibu sudah
mau menggendong tubuhku yang sesungguhnya amat lemah ini. Terimakasih ibu sudah
mau mengecup keningku hingga ujung akar rambutku, yang sesunggunya dalam kepala
ini ada hal yang amat ganas, yang suatu saat akan menjadi penyebab aku pergi. Terimakasih
ibu sudah mau mengasuhku sepanjang hidupku. Aku gak tau harus membalasnya
dengan apa. Tapi aku tau, ibu gak pernah meminta balasan apapun dari aku. Kecuali
aku harus menuruti semua perintah ibu termasuk larangan aku berpacaran. Tapi bu..
Inilah saatnya aku membuka misteriku yang aku simpan selama 4 tahun ini. Ashar
yang ibu kenal sebagai penyelamat hidup aku, kini dia adalah calon menantu ibu.
Aku dan Ashar sudah menjalin hubungan selama 4 tahun. Dan dia berjanji dalam
waktu dekat ini akan memperkenalkan keluarganya dengan ibu. Dia ingin
mempersuntingku bu. Aku mohon ibu menerimanya dengan ikhlas, aku mencintainya
bu. Kini dia juga menjadi alasan aku bertahan hidup. Aku minta maaf yang
sebesar-besarnya sudah melanggar peraturan ibu. Tapi aku melakukan ini untuk
menyenangi sisa usiaku bu. Aku hanya ingin hidup sama seperti wanit lain di
detik-detik terakhirku. Maafkan aku, bu. Dan aku sayang ibu..”
Kertas surat untuk ibu
dibasahi dengan air mata kepedihan sekaligus ketenangan ini. Aku harap ibu bisa
menerima Ashar dan memperbolehkan aku dan Ashar berumah tangga. Amin.. Surat
itu aku simpan dulu sampai esok aku selesai menuls surat untuk Ashar.
Esok harinya aku bangun
lebih pagi dari biasanya. Setelah aku selesai sholat Subuh, aku mengambil
selembar kertas putih kosong di lemari dengan susah payah. Aku berusaha agar
kaki ini dapat membawaku ke lemari itu. Dan tangan ini dapat mengambil kertas
dan pulpen. Setelah semuanya ku dapat, aku menulis surat berisi rahasia yang ku
pendam selama ini, untuk Ashar..
“Muhammad Ashar,
kekasih impianku.. Terimakasih kamu sudah menyelamatkan hidupku ketika aku
merasa frustasi waktu itu. Terimakasih kamu sudah mau berteman denganku. Terimakasih
kamu sudah memberikan perhatian yang luar biasa untukku. Terimakasih kamu sudah
mau menemaniku setiap waktunya. Terimakasih kamu sudah mau mempercayai semua
kebohonganku. Bohong atas apa obat-obatan itu. Bohong saat aku mimisan. Bohong saat
kamu bertanya mengapa rambutku semakin menipis. Dan bohong atas penyakitku
selama ini. Shar, ini saatnya aku membuka rahasiaku yang aku pendam selama aku
kenal kamu. Sudah 21 tahun ini, aku hidup dengan mengidap kanker otak stadium
lanjut. Obat-obatan itu adalah obat untuk mencegah kanker itu semakin ganas. Darah
mimisan itu adalah darah yang selalu keluar disaat aku capek, dan itu karna
kanker aku ini. Rambutku semakin tipis itu adalah efek kemoterapi aku selama
ini. Dan mungkin ini adalah detik-detik terakhirku di dunia. Datanglah kerumah
lusa nanti. Bawa keluargamu dan perkenalkan aku dan ibu ke mereka. Aku pastikan
ibu menyetujuinya. Aku siap menjadi istrimu, Shar. Aku mencintaimu sepenuh
hati..”
Kedua surat itu
selesai. Dengan berusaha sekuat tenaga, aku meletakkan surat untuk ibu tepat di
atas tempat tidurnya. Dan meletakkan surat untuk Ashar di tasnya saat tadi sore
dia kerumah. Hati ini lebih tenang dari sebelumnya. Lebih lega. Tapi diatas
ketenangan dan kelegaanku ini, darah mengaris dengan deras dari hidungku. Aku merasakan
badanku benar-benar lemas tak berdaya. Dan aku merasa terjatuh ke lantai dan
penglihatanku pun mulai gelap. Aku merasa tak hidup.
Ini hari dimana Ashar
dan keluarganya datang. Karena aku masih terbaring lemas di tempat tidur rumah
sakit, merekapun rela datang kerumah sakit demi memperkenalkan aku dan ibu
dengan keluarga Ashar. Saat itu ayahnya Ashar menyampaikan tujuannya. Pertama,
ingin berkenalan dengan keluargaku yang bersisakan ibu, kak Far, dan aku yang
mungkin sebentar lagi meninggalkan mereka berdua. Kedua, ingin meminta izin
agar Ashar bisa menjadi suamiku kelak. Dia akan menikahiku besok. Spontan, ibu
langsung terkejut namun ternyata ibu merestuinya. Tapi rasanya batin ini gak
yakin besok aku akan jadi seorang istri dari Ashar, seorang calon suamiku. Ada hal
yang berat di hatiku.
Keesokan harinya...
Ini hari dimana calon
suamiku akan mengucapkan ikrar janji sehidup semati, mengucapkan ijab kabul di
hadapan penghulu dan keluarganya. Mengucapkannya di dalam kamar rumah sakit. Aku
memaki gaun putih cantik yang menjadi turun temurun dari keluarga ibu. Ashar memakai
jas putih bersih sudah duduk berhadapan dengan bapak penghulu. Jantungku berdetak
amat, amat kencang. Nafasku tersenggal-senggal saat Ashar ber-ijab kabul. Akhirnya
aku resmi menjadi istri dari Muhammad Ashar, saat tiba-tiba aku merasakan
pusing yang hebat, darah mimisan yang keluar terus menerus dari hidungku,
tanganku tak dapat digerakkan, kaki ku pun tak bisa juga. Berbicarapun juga
sudah tak jelas. Ashar menghampiriku dengan wajah yang amat panik, khawatir,
dan menangis. Bajuku sudah penuh darah. Aku meminta ibu juga berdiri di
sebelahku. Aku berbisik di telinga ibu sambil menggenggam tangannya, “terimakasih
bu, sudah merestui aku dan Ashar. Hidupku kini sempurna. Ayah dan Dizzi pasti
senang melihatku memakai gaun ini walaupun mereka cuman bisa melihatku dari
alam sana. Aku sayang ibu, hari ini, esok, dan seterusnya bu”, aku menyalami
tangganya. Setetes air mata dan setetes darah membasahi tangan ibu.
Lalu ku genggam tangan
Ashar dan berkata, “setelah ini semua selesai, aku minta kamu mengadopsi anak
perempuan yang manis dan memberi namanya Dela juga, sama sepertiku. Agar kamu
selalu ingat aku walaupun nanti kita beda dunia. Karna aku tau, aku gak bisa
dan gak akan sanggup memberikanmu anak dari rahimku. Jangan pernah kamu lupa
ini, cinta aku ke kamu gak akan pernah lekang oleh pendeknya usiaku. Walaupun usiaku
ini boleh dibilang sebentar, tapi rasa cintaku untumu akan abadi ikut bersamaku
kerumah Tuhan”. Ku kecup tangannya sambil mengatur nafasku yang semakin sesak
dan tubuhku serasa terbang. Aku mengambil nafasku, dan berkata pada Ashar, “cintaku
tak lekang oleh usiaku”. Saat itulah aku merasa nyawaku terbang, menyusuli ayah
dan Dizzi di surga sana.
Cinta yang abadi dan
kekal adalah cinta yang selalu mengikuti kita kemanapun kita pergi. Hingga ke
akhiratpun cinta itu akan ikut terbang bersama kita.
Maaf bila ada kesamaan
cerita atau tokoh. Tapi ini adalah hasil tulisan saya yang menggambarkan cinta
abadi. Dan inilah, cinta tak lekang oleh usia J