Aku hanya ingin menghapus goresan wajahmu yang
melekat di benakku, yang sering kali terbayang sebelum aku terlelap. Wajahmu
yang rupawan, dengan lengkungan senyum yang manis yang selalu membuatku ikut
tersenyum, cara jalanmu yang lucu, yang selalu membuatku sulit menghapuskanmu.
Kadang aku ingin seperti penghapus, yang selalu mudah menghapus setiap coretan
pensil di kertas putih. Aku ingin seperti itu. Mudah menghapusmu, tanpa ada
sisa sedikitpun.
Aku hanya ingin berhenti mengharapkanmu.
Mengharapkan semua responmu yang ku kira itu nyata. Namun selama ini aku salah.
Salah besar. Responmu itu hanya sebagai hal untuk membuatku senang, sekaligus
membuatku justru makin sayang, namun makin berharap suatu yang tak pasti. Kamu
hanya ingin aku semakin sayang, tapi kamu datang dan pergi sesuka hatimu.
Membuatku terbang dan menjatuhkanku seketika. Membuatku berharap lebih kamu
akan membalas semua rasa sayang dan kepedulianku, padahal tak sedikitpun hal
itu menjelma darimu. Kamu tahu rasanya? Sakit.
Aku
hanya ingin menghentikan segala adegan kenangan manis yang selalu terekam dalam
memoriku. Mungkin bukan kenangan manis, melainkan kenangan bullshit yang
bodohnya selalu aku dambakan akan terulang lagi. Kenangan saat matamu menatap
lekat mataku, dan menorehkan senyuman termanis milikmu. Aku selalu ingin masa
itu terulang terus-menerus, padahal aku tahu itu semata-mata hanya ingin
membuatku senang. Hanya.
Kadang
kamu terlalu putih. Walaupun kelihatan kurang menarik di mata orang-orang, tapi
selalu terasa sejuk bagiku. Kadang kamu terlalu berwarna. Walaupun kelihatan
kurang kontras, tapi selalu terasa indah bagiku. Dan kadang kamu terlalu
abu-abu. Dimana warna itu campuran antara warna hitam dan putih. Hitam gelap,
putih sejuk. Kamu terasa gelap saat sikapmu yang jutek, dan kamu terasa sejuk
saat sikapmu yang ‘seperti’ membalas rasa sayangku. Kamu itu... gak jelas bagi
aku.
Maaf
aku harus melupakanmu dan membuang segala rasa. Jangan kamu merasa kehilangan,
karena aku tahu itu hanya pura-pura. Jangan kamu merasa rindu, karena aku tahu
kamu justru lebih bahagia setelah aku berhenti mengganggumu. Rasanya cukup
sampai disini rasaku ini menyiksa batinku. Karena aku lelah dengan semua hal
yang gak jelas. Aku lelah dengan semua hal yang tak pasti. Aku hanya ingin
sesuatu yang terlihat jelas dan nyata. Aku hanya ingin sesuatu yang pasti ada.
Bukan hal yang ku namakan, bullshit.