Friday, November 29, 2013

Ku Namakan, Bullshit

             Aku hanya ingin menghapus goresan wajahmu yang melekat di benakku, yang sering kali terbayang sebelum aku terlelap. Wajahmu yang rupawan, dengan lengkungan senyum yang manis yang selalu membuatku ikut tersenyum, cara jalanmu yang lucu, yang selalu membuatku sulit menghapuskanmu. Kadang aku ingin seperti penghapus, yang selalu mudah menghapus setiap coretan pensil di kertas putih. Aku ingin seperti itu. Mudah menghapusmu, tanpa ada sisa sedikitpun.
             Aku hanya ingin berhenti mengharapkanmu. Mengharapkan semua responmu yang ku kira itu nyata. Namun selama ini aku salah. Salah besar. Responmu itu hanya sebagai hal untuk membuatku senang, sekaligus membuatku justru makin sayang, namun makin berharap suatu yang tak pasti. Kamu hanya ingin aku semakin sayang, tapi kamu datang dan pergi sesuka hatimu. Membuatku terbang dan menjatuhkanku seketika. Membuatku berharap lebih kamu akan membalas semua rasa sayang dan kepedulianku, padahal tak sedikitpun hal itu menjelma darimu. Kamu tahu rasanya? Sakit.
            Aku hanya ingin menghentikan segala adegan kenangan manis yang selalu terekam dalam memoriku. Mungkin bukan kenangan manis, melainkan kenangan bullshit yang bodohnya selalu aku dambakan akan terulang lagi. Kenangan saat matamu menatap lekat mataku, dan menorehkan senyuman termanis milikmu. Aku selalu ingin masa itu terulang terus-menerus, padahal aku tahu itu semata-mata hanya ingin membuatku senang. Hanya.
            Kadang kamu terlalu putih. Walaupun kelihatan kurang menarik di mata orang-orang, tapi selalu terasa sejuk bagiku. Kadang kamu terlalu berwarna. Walaupun kelihatan kurang kontras, tapi selalu terasa indah bagiku. Dan kadang kamu terlalu abu-abu. Dimana warna itu campuran antara warna hitam dan putih. Hitam gelap, putih sejuk. Kamu terasa gelap saat sikapmu yang jutek, dan kamu terasa sejuk saat sikapmu yang ‘seperti’ membalas rasa sayangku. Kamu itu... gak jelas bagi aku.

            Maaf aku harus melupakanmu dan membuang segala rasa. Jangan kamu merasa kehilangan, karena aku tahu itu hanya pura-pura. Jangan kamu merasa rindu, karena aku tahu kamu justru lebih bahagia setelah aku berhenti mengganggumu. Rasanya cukup sampai disini rasaku ini menyiksa batinku. Karena aku lelah dengan semua hal yang gak jelas. Aku lelah dengan semua hal yang tak pasti. Aku hanya ingin sesuatu yang terlihat jelas dan nyata. Aku hanya ingin sesuatu yang pasti ada. Bukan hal yang ku namakan, bullshit.