ALL ABOUT TWENTYSEVEN
Mungkin hanya lewat mimpi aku
bisa merasakan kembali indahnya bersamamu. Mungkin hanya lewat lantunan syair
lagu aku bisa mendengar kembali manisnya kata-katamu. Tapi dengan hanya satu
tatapan dari matamu, aku dapat merasakan guncangan yang teramat dahsyat dari
hati ini. Dan guncangan itu adalah guncangan rasa cinta dan sayang.
Kamu bisa pergi dari cerita
cintaku, tapi kamu tidak akan bisa pergi dari cerita mimpiku. Kamu bisa hilang
dari hadapanku, tapi kamu tidak akan bisa hilang dari hatiku. Cerita cinta kita
memang sudah berakhir. Tapi cerita cintaku ke kamu belumlah usai. Masih terlalu
banyak episode-episode cerita tersebut yang akan aku lewati. Dan tema dalam
episode itu adalah, menunggumu tuk kembali.
Mulut bisa berbohong dalam
kata-kata, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong dalam perasaan. Layaknya
mulut dan hati ini. Mulutku bisa berbohong tidak memerlukanmu lagi. Tapi hatiku
tidak pernah bisa berbohong jika aku tidak memerlukanmu. Dan hatiku berbicara
“sungguh aku memerlukanmu”.
Ada satu pepatah mengakatan.
“Cinta tak harus memiliki”. Padahal sesungguhnya cinta harus memiliki dan harus
dimiliki oleh setiap kalangan masyarakat, layaknya aku mencintaimu dan aku
bertekad untuk tetap menunggumu.
Untuk apa kita menyukai
seseorang, kalau pada akhirnya kita tidak memilikinya? Untuk apa cinta itu ada
di dunia kalu pada akhirnya tidak bisa dimiliki? Dan sungguh banyak
pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan pepatah tersebut.
Terpuruk aku dalam kebodohan
karena menyayangi seseorang berinisial I yang sudah terlebih dahulu
melupakanku. Galau, sedih, hancur adalah hal-hal yang aku rasakan sebelum aku
bertemu dengan sosok pria yang ku impikan. Dia datang membawa suasana baru.
Suasana yang membuatku tenang, membuatku kembali bangun dari kesedihan. Dia
membawa kebahagiaan. Kebahagiaan yang selalu ku tunggu semenjak aku terpuruk dalam
kesedihan, kebodohan, dan ketidak sadaranku karena telah menyayangi manusia
sepertinya.
Detik demi detik ku lewati bersama dia. Bercanda gurau bersama, berbagi cerita
bersama. Menit ke menit terlewati. Setiap menit kita manfaatkan untuk saling
mengenal satu sama lain. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu pun
berlalu. Kita semakin dekat dan aku semakin mengenal watak dirinya. Tapi
bodohnya aku yang masih saja menyayangi mantanku. Masih saja memikirkan manusia
yang sudah menyakitiku. Dan masih saja aku mengharapkan untuk kembali bersama
manusia itu.
Minggu ke minggu telah kita lewati. Dia pun semakin perhatian denganku. Dia
selalu mengingatkanku untuk makan dan istirahat. Dia selalu melarangku jika aku
tidur tengah malam. Rasa curiga mulai terasa. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang
terngiang di otak ini. Mengapa dia begitu perhatian?
Suatu hari aku sengaja bertanya padanya dengan sedikit agak memaksa. Cewek
manakah yang menjadi tambatan hatinya? Awalnya dia tidak mau menjawab
pertanyaanku. Tapi akhirnya dia mau jujur padaku. Dia berkata “orang yang gue
suka itu lo”. Seketika aku kaget. Tapi sebenarnya pada awalnya aku telah
mempunyai firasat dia akan menjawab seperti itu. Dan ternyata. Firasatku benar.
Jadi, selama ini dia sudah menyukaiku. Sejak pertama kita bertemu. Dia sempat
mempunyai kekasih, tapi hanya setengah hati yang dia berikan pada kekasihnya
tersebut. Dan selama ini dia sudah terlalu sabar mendengar ceritaku tentang
manusia itu. Maafkan diri ini. Aku tidak tahu. Semenjak dia jujur padaku, semua
agak berubah. Kita jadi jarang bercanda, jarang berbagi cerita lagi. Mungkin
karena rasa malu.
Cinta memang butuh pengorbanan. Pengorbanan untuk menunggu. Menunggu seseorang
yang kita sayangi agar menjadi milik kita. Tapi, cinta itu sederhana. Karena
cinta tak pernah melihat derajat seseorang, tapi cinta hanya melihat dari
kesungguhan, kesetiaan hati.
Biarkan
cinta berjalan. Waktulah yang akan mengejarnya. Biarkan waktu memiliki kekurangan.
Cintalah yang akan melengkapinya. Tapi, jangan biarkan aku berdiri sendiri
tanpamu. Karena aku akan merasa lengkap bila kamu ada. Jangan biarkan aku
berjalan menyusuri hari demi hari sendiri tanpa hadirnya kamu. Karena akan
terasa lebih indah bila hari-hariku terlewati bersamamu. Seperti kata Rumor
dalam lagunya Butiran Debu, “aku tanpamu, butiran debu”. Hari-hariku bila
tanpamu bagaikan butiran debu yang bertebaran di meja. Jika debu itu di usap,
maka akan hilang. Jika aku tanpa kamu, maka akan terasa hampa.
Di masa-masa pendekatan ini, aku mencoba untuk lebih dalam mengenali watakmu.
Dan aku juga mencoba belajar untuk mencintaimu dan melupakan manusia yang sudah
memberikan harapan palsu padaku. Mungkin aku memang terlalu bodoh karena telah
menyayangi orang yang salah. Dan aku amat sangat bodoh karena telah
menghiraukan perasaan orang yang selama ini sayang padaku dengan tulus.
Waktu malam pun tiba. Saat itu aku sedang berada di salah satu tempat rekreasi
di DKI Jakarta, yaitu Taman Impian Jaya Ancol. Saat itu aku sedang menginap
semalam di hotel Putri Duyung. Sendiri aku duduk manis di taman sambil
menggenggam telefon genggamku. Tersenyum sendiri membaca isi pesanmu. “Lagi
apa? Sudah makan? Jangan sampe kecapekan ya”. Itulah salah satu isi pesan
singkat darinya. Begitu sayangnya dia padaku, sedangkan aku, aku selama ini
telah menyakitinya. Aku telah membuatnya menunggu. Menunggu akan datangnya
keajaiban. Keajaiban agar aku menyayanginya.
Kita tak pernah menyangka. Kita juga tak
pernah menduga. Apa, bagaimana, dan siapa yang menunggu kita. Tapi kita tahu.
Dan kita percaya. Bahwa cinta akan selalu ada hari ini, esok, dan seterusnya.
Cinta tak bisa berkata-kata. Cinta juga tak bisa member tanda. Hanya saja,
perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai. Kita di
dunia ini ditakdirkan untuk memiliki “cinta sejati”.
Cinta bukan berarti selalu tertawa. Dan bukan berarti selalu
bersedih. Cinta juga bukan berarti selalu mengetahui. Tapi, cinta berarti
selalu memahami.
Tahap demi tahap telah kita lewati. Perkenalan, pertemanan,
pendekatan, sampai pada akhirnya kita berada di puncak dari segalanya. Aku tak
pernah berpikir kalau kita akan sampai pada jenjang ini. Jenjang dimana kita
akan lebih saling mengenal watak kita masing-masing. Jenjang dimana kita akan
selalu bersama, bersatu, sampai takdir yang memisahkan. Dan jenjang dimana kita
akan menguji segala sesuatu hal yang berhubungan dengan, cinta.
Memang aku belum sepenuhnya sayang dengannya. Tapi aku akan terus belajar.
Belajar untuk sayang padanya. Aku hanya butuh waktu. Karena waktulah yang akan
membantuku disamping berusaha. Aku hanya ingin mencintainya dengan sederhana.
Aku tidak akan perlu melihat apa yang dia punya dalam bentuk barang. Tapi aku
sangat memerlukan apa yang dia punya di dalam hatinya dan hidupnya. Aku hanya
perlu ketulusan, kepercayaan, kejujuran, yang selama ini belum pernah aku
rasakan. Karena cinta ibarat sebuah tanaman yang harus diberi pupuk. Pupuk dari
cinta adalah sebuah kejujuran, ketulusan, dan kepercayaan.
“Lo mau jadi pacar gue gak?”. Itulah kata-kata yang dia ucapkan padaku disaat
aku sedang dalam perjalanan menuju rumah. Aku hanya tersenyum terkejut melihat
isi pesannya. Dan aku berpikir apakah aku akan menerimanya atau menolaknya.
Belum sempat aku menjawabnya, baterai telefonku habis. Aku hanya membalas
pesannya “Maaf hp gue abis batre nya. Ntar gue jawab ya”. Hanya itu yang ku
jawab. Resah dan gundah gulana ku rasakan saat memikirkan apa yang harus ku
jawab nanti. Aku bingung. Di sisi lain aku memang menyayanginya. Tapi di sisi
lain juga aku belum bisa melupakan manusia berinisial I itu.
Dalam perjalanan aku berpikir apa yang harus aku jawab nanti? Aku berpikir
hingga tak sadar bahwa aku sudah sampai di rumah. Aku turun dari mobilku dengan
masih berpikir. Menentukan pilihan itu memang sulit. Justru lebih sulit dari
melupakan seseorang yang kita sayang. Aku takut untuk mengecharge telfonku.
Karena aku belum menentukan pilihanku. Namun hati ini berkata “terimalah
cintanya dan segera awalilah kisah baru dengan orang baru”. Dan pada akhirnya
aku mengecharge telfonku dan segera menjawab pesannya, “gue mau jadi pacar lo”.
Seketika dia tak percaya aku menjawab itu. Dan dia mengira aku terpaksa
menjawab itu. Dan itulah awal dari hubungan ini. Saatnya menjalani hubungan ini…
Aku akan berusaha memberikan cinta terbaik yang aku punya untukmu. Dan aku akan
pastikan kalau hatiku hanya untukmu satu.
Aku akan melewati kisah baru
bersamamu. Aku akan merangkai kata-kata indah tentang kita di lembaran kertas
putih yang baru. Aku telah menemukan benih cinta baru di hidup ini. Dan suasana
hidup baru yang lebih indah dibandingkan dengan yang telah berlalu.
Ragukan bahwa bintang-bintang adalah api. Ragukan bahwa titik-titik matahari
bergerak. Ragukan kebenaran adalah kebohongan. Namun jangan ragukan bahwa aku
sangat mencintaimu. Inilah hasil dari selama aku belajar untuk mencintaimu, tak
mau berpisah denganmu.
Mungkin kebanyakan dari manusia di dunia ini memperlakukan cinta seperti sebuah
mainan yang bisa dibongkar pasang sesuka hati. Tapi untuk mencintaimu, aku akan
memperlakukan seperti sinar matahari yang akan abadi.
Hanyalah para kesatria yang mampu mencintai. Karena cinta adalah melindungi,
menaungi, menghargai, kesetiaan, dan pengorbanan. Dan semua itu hanya mampu
dihadirkan oleh para kesatria. Karena kamu memiliki semuanya, maka kamulah
kesatria di kerajaan hatiku.
Sehari berjalan….
Bangun dari pagi hari yang cerah setelah tidur dengan lelap, ku lihat ada pesan
dalam telefonku. Tidak lain tidak bukan pesan itu dari Fadillah. Yap, Fadillah
adalah nama orang yang selama ini ku cerita dalam cerita ini. Lama sudah tak
dapat ucapan “selamat pagi” dari kekasih. Indah tak terduga rasanya.
Tiba-tiba suasana indah menjadi runyam ketika aku melihat mantannya Fadillah
bersedih di salah satu jejaring sosial, Twitter. Memang saat itu Aurel, mantan
kekasih Fadillah masih menyayanginya. Tak tega rasanya aku melihatnya. Aku
merasa aku telah merebut Fadillah dari Aurel. Dan beberapa dari sahabatku ada
yang tidak menyetujui hubunganku dengan Fadillah. Ku kirim pesan singkat
untuknya “maaf kita putus.” Rasanya sakit sangat di hati. Baru saja menjalin, langsung
berpisah.
Setelah itu aku menghilang dari Twitter. Aku tidak membalas BBM dari
sahabat-sahabatku. Aku tidak membalas pesan dari Fadillah. Aku juga tidak
mengangkat telefon darinya. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang
jatuh berkali-kali.
Tiba di sekolah. Aku berjalan masuk ke gerbang sekolah. Tepat di gerbang
sekolah, aku disambut dengan melihat Fadillah bersama temannya yang sedang
berjalan melewatiku. Kita hanya bertatap mata kesedihan sambil tetap berjalan.
Aku melihat raut wajahnya sangat murung. Aku hanya dapat berkata dalam hati
“maafkan aku Dill.”
Selama di sekolah aku menutupi semua kesedihanku. Berpura-pura tertawa dan
tersenyum. Padahal hati ini sudah terlalu remuk.
Cinta butuh tersenyum. Cinta butuh menangis. Cinta butuh kebahagiaan. Cinta
butuh kesedihan. Dan aku butuh kamu saat ini.
Waktu pulang sekolah pun
tiba. Saatnya untuk menyudahi berpura-pura tersenyum. Lelah dan sakit rasanya.
Ku lihat Fadillah sudah pulang ke rumahnya karena rumahnya sangat dekat dengan
sekolah. Aku ingat dulu ketika masa pendekatan, aku pernah ke rumah.
Aku masih di jalan pulang ke rumah. Tiba-tiba telefonku berbunyi tanda pesan
masuk. Ku lihat pesan itu dari Fadillah yang membujukku untuk melanjuti hubungan.
Sedaritadi aku di sekolah, aku berpikir apakah akku akan melanjutkan atau
benar-benar berhenti. Dan sampai saat ini aku belum menentukan pilihanku. Aku
kebingungan bagaikan orang yang mencari-cari arah jalan pulang.
Sesampainya di rumah, aku langsung memutuskan keputusanku. Aku dan dia saling
menyayangi, dan mantan kekasihnya Fadillah juga sudah menerima semua kenyataan.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini dan melanjutkan
cerita indah nan bahagia ini.
Aku baru saja kembali ke dunia yang sesungguhnya. Dunia dimana da kamu dan aku
bersatu kembali. Dunia dimana bintang dan bulan selalu bersama di malam hari.
Meluruskan masalah yang ada dan mengambil keputusan yang tepat adalah cara
untuk mendapatkan hal yang sesungguhnya. Karena kesungguhan itu sederhana
adanya.
Hanya memandang raut wajahmu, hatiku tenang tak meragu. Hanya menatap senyummu,
aku sanggup menghadapi dunia yang begitu keras. Tiada lain yang ku mau untuk
hidupku ini. Hanya kamu yang ku mau, hanya dirimu yang ku inginkan.
Kamu adalah cahaya pagi
disaat aku terbangun dari tidurku yang lelap. Menyapaku dengan untaian kata
yang seadanya. Mengingatkanku untuk melakukan aktivitasku di pagi hari.
Menyemangatiku untuk tetap melangkah bebas di dunia yang keras ini. Dan
menuntunku untuk melupakan apa yang telah berlalu, yang telah menjadi sebuah
pelajaran. Masa lalu adalah tokoh sejarah. Masa kini adalah tokoh perjuangan.
Masa depan adalah tokoh impian.
Aku selalu saja menggenggami telefonku. Menunggu bunyi tanda pesan masuk di
setiap saat. Di setiap bunyi itu aku selalu berharap pesan itu darimu. Aku
selalu berharap kamu mengirimkan sepatah, dua kata manis untukku. Karena hanya
dengan itu, aku bisa bahagia dan tersenyum cerah di pagi yang cerah ini. Karena
untuk bahagia dan tersenyum itu sederhana.
Embun di pagi buta, matahari yang berbinar-binar, awan yang merekah-rekah,
bunga yang tumbuh subur, rerumputan yang basah, dan burung yang berkicau merdu
adalah saksi dari kebahagiaanku di pagi ini. Aku bukannya tak pernah bahagia,
tapi aku hanya baru saja merasakan kebahagiaan lagi setelah cukup lama aku
terjatuh dan tak bisa bangkit lagi sebelum aku bertemu dengan, Fadillah…..
Sering, hanya dengan menatap
senyummu, aku sudah merasa bahagia. Aku menyukai semua yang kita punya saat
ini. Kehampaan yang dulu pernah singgah, perlahan-lahan pergi, sejak kamu di
sini. Karena kamu adalah jawaban dari istilah ‘bahagia itu sederhana”. Cinta
memang sederhana adanya. Namun manusia yang menjadikannya penuh ukiran rumit
dan berbeli-belit kusut.
Kamu
adalah pagi. Karena kamu selalu memberikan sebuah harapan. Kamu adalah pagi.
Karena kamu selalu ada di doa yang terucap. Kamu adalah pagi. Karena kamu sudah
membuat hariku penuh dengan cahaya gemerlap. Kamu adalah pagi. Karena kamu,
cinta yang tak habis akan harap.
Kamu bagaikan pagi hari yang cerah.
Pagi yang cerah telah berganti siang yang terik. Saatnya untuk
berangkat ke sekolah, bertemu dengan gedung sekolah yang walaupun sudah tua
namun tetap kokoh, bertemu dengan para guru-guru yang mengajariku di setiap
harinya, bertemu dengan teman-temanku yang selalu membuatku tertawa dikala
sedih, dikala senang. Dan aku juga bertemu pujaan hatiku, Fadillah. Mungkin
memang baru 2 hari aku menjalankan hubungan bersamanya, namun rasanya seperti
sudah bertahun-tahun hidup dengannya.
Mungkin kamu tidak tahu,
bahwa di setiap tutur doaku selalu menyebut namamu. Aku selalu meminta kepada
Tuhan untuk menjagamu di setiap waktu hidupmu. Aku selalu memohon agar kisah
kita tidak berakhir secepat kilat disaat hujan deras yang membasahi jalan.
Meski aku harus terlelah dan letih, namun aku akan memenuhi hal positif yang
kamu inginkan dariku. Karena itu semua demi kamu, sayang.
Tak sabar ingin bertemu, aku
selalu membayangkan raut wajahmu di sepanjang perjalanan ke sekolah. Bila kamu
tahu, di setiap langkah aku berjalan, aku selalu mempermainkan kisah dimana
kita pertama bertemu dalam gerak lambat di benakku. Disana ada aku yang masih
menyayangi mantanku. Dan disana ada kamu yang menyayangiku namun kamu setengah
hati menyayangi kekasihmu dulu.
Aku sampai di sekolah. Tak ku
lihat sosok dirimu ada di depan gerbang sekolah seperti hari kemarin. Aku hanya
melihat guru-guru yang sedang asyik bercanda gurau dan murid-murid yang sedang
berjalan menuju kelasnya, termasuk aku. Aku melewati kelasmu yang menjadi kelas
paling awal dari semua kelas 1 SMP. Aku melihatmu. Kamu melihatku. Terjadilah
saling bertatap mata dan saling memberikan senyuman manis, dan aku tetap masih
berjalan menuju kelasku yang tepatnya adalah kelas ke 3 dari semua kelas 1 SMP.
Suasana di sekolah rasanya
berbeda. Bagiku sekolah lebih berwarna karena adanya kamu di salah kelas di
sekolah ini. Karena adanya kamu yang mewarnai kisahku, hariku, duniaku, dan
sekolah kita ini. Bagiku kian.
Kamu bagaikan pensil warna
yang mewarnai hariku dengan sebuah lekukan senyummu. Kamu bagaikan api yang
membara yang menghangatkanku disaat aku disampingmu. Kamu bagaikan angin
sepoi-sepoi yang selalu menyejukkan hatiku. Kamu adalah bahagiaku.
3 bulan kemudian.........
Kita adalah dua sejoli yang
saling menyayangi. Kita adalah dua ciptaan Tuhan yang di perintahkan untuk
saling berbagi, mengasihi, menyayangi, dan mencintai. Tapi di suatu hari, kita
bagaikan matahari dan bulan yang tak akan pernah bisa menyinari bumi secara
berlangsungan. Saling bertengkar. Menyalahkan satu sama lain. Namun
sesungguhnya, semua pertengkaran kita aku yang memulainya. Aku terlalu sering
melarangmu untuk melakukan hal yang kamu sukai. Kamu ingin bermain bola di
malam hari, aku selalu melarang. Kamu ingin bermain bersama temanmu selalu, aku
larang. Aku terlalu egois untuk menjadi manusia yang dicintai. Aku selalu ingin
kemauanku dituruti. Aku kira hanya dengan bersamaku kamu akan bahagia. Tapi
ternyata aku salah. Kamu akan lebih bahagia hanya dengan bersama teman-temanmu.
Bukan denganku, kekasihmu.
Sekarang dan dulu berbeda. Kamu yang sekarang dan kamu yang dulu itu berbeda.
Dulu, kamu selalu menemaniku setiap waktu, tapi sekarang kamu lebih
mementingkan prioritasmu disbanding aku. Dulu, kamu selalu menyapaku dengan kata
manismu di setiap paginya, tapi sekarang kamu hanya mengirimkan pesan di hari
yang sudah lumayan siang dan telefonmu juga terlalu sering mati, disita,
baterainya habis, dan alasan yang menurutmu aku akan percaya semuanya.
Kenyataannya aku setengah hati tidak percaya. Kita yang dulu dan yang sekarang
pun berbeda. Dulu, kita sering berdua, menikmati keindahan bersama, tapi
sekarang kita lebih sering terpisah. Dulu, setiap bertemu di sekolah kita
selalu memanfaatkan sedikit waktu untuk mengobrol, tapi sekarang kita hanya
saling bertatapan bila bertemu. Tak ada kata, hanya perlakuan.
Sudah empat bulan kita bersama, mengarungi keanekaragaman peristiwa. Dan salah
satunya peristiwa pertengkaran yang hebat hingga membuatku harus menitikkan air
mata di sekolah. Aku sudah berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata ke pipiku,
tapi semua sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku sudah terlalu lelah menahan air
mata di saat aku sedang mencoba untuk bertanya, apa kamu marah denganku karena
aku sudah terlalu berbicara kasar padamu? Saat itu aku memang sedang dalam
emosi yang luar biasa karena kita belum bertemu, belum saling menyapa sejak
tadi. Malah yang kamu lakukan hanya bermain bersama teman-temanmu di kelas,
bukannya berusaha untuk bertemu denganku. Aku berkata “terus aja main kuda
tubruk, biar sekalian patah tuh tulang!”. Saat itu aku sangat emosi, marah,
kesal karena melihat sikapmu seperti ini. Hingga akhirnya aku menghampirimu
yang sedang bermain dengan temanmu. Aku kaget melihatmu yang sinis dengan
keberadaanku disana. Aku betanya “marah ya?”. Kamu hanya diam, tanpa jawaban.
Sudah berkali-kali aku bertanya, namun tetap sama. Tanpa jawaban. Akhirnya aku
berlari sambil menangis ke kelasku yang dipenuhi dengan teman-temanku yang
terlihat lebih peduli denganku dibanding kamu. Semua temanku bertanya “Samantha
kenapa?”. Sedangkan kamu. Kamu dengan santai lewat depan kelasku dan tidak
menghampiriku yang sedang menitikkan air mata. Sudah jelas kamu melihatku
dengan mata kepalamu, aku sedang duduk sambil menutupkan wajahku yang penuh
dengan air mata.
Aku sempat berfikir akan mengakhiri hubungan ini, namun aku masih amat sangat
menyayangimu. Hingga akhirnya aku membuat peringatan padamu, “sampe sekali lagi
kamu nyakitin aku, aku akan akhirin hubungan ini!”. Tapi setelah beberapa hari,
aku cabut peringatan itu karena sesungguhnya aku berat untuk melepasmu. Aku
merasa berat jika nanti aku harus membiasakan diri berjalan menyusuri hari
sendiri, tanpamu disampingku. Hingga saat pertengkaran itu, aku merasa hubungan
ini sudah sepenuhnya berbeda. Sudah amat sangat berbeda dari hari yang lalu.
Kita semakin berbeda pendapat. Tapi, aku masih tetap menyayangimu.
Apakah aku harus bertahan? Untuk air mata?
Untuk kebohongan dan kerahasiaan? Aku bukan patung kecil yang bisa tak
diacuhkan. Aku bukan sekumpulan
kunang-kunang yang tak terlihat sinarnya saat terang. Aku ini manusia yang
sudah terlalu sering merasakan kesakitan ini semua. Namun, aku tetap tak pernah
bisa menahan tetesan air mata di saat aku diacuhkan.
Aku hanya ingin meminta satu permintaan dari Tuhan. Aku tidak mau diacuhkan
lagi dengan orang yang aku sayangi…
06, April 2012…
Aku selalu tahu. Hari ini akan datang pada hubungan ini. Kita akan berpisah.
Berdiri sendiri-sendiri dengan masa depan yang begitu banyak mimpi, banyak
rencana yang kita genggam. Aku selalu tahu. Setelah lama ada tawa, pasti
akan tiba tangisan. Tapi aku tidak pernah memikirkan itu selama kita bersama
menyatu.
Aku akan berdiri sendiri dengan sejuta rasa sakit dan tak rela. Aku akan
menjalani hidup yang akan kurang sempurna bila tanpamu. Sulit untuk mengucapkan
“selamat tinggal” padamu. Tapi, ini maunya kamu dan mungkin ini memang yang
terbaik untuk kita.
“Maaf, kita lebih cocok jadi
temen”. Aku kaget melihat isi pesanmu itu. Seakan-akan kamu sudah tak lagi
menyayangiku. Yang kurasa hanya sedih, ingin menangis tapi tak bisa, ingin
marah tapi aku hanya sendiri saat itu. Memang isi balasan pesanku mengatakan
seperti aku rela melepasmu. Namun, sesungguhnya hati ini tak pernah rela
melepasmu dan tak pernah rela. Tapi hari kemarin sudah kita lewati. Sekarang,
kita sedang melewati hari ini. Hari dimana kita akan mengakhiri hubungan ini.
Menutup buku cerita tentang kita berdua. Mengakhiri episode-episode film
tentang kita berdua.
Haruskah kita berakhir cukup
sampai disini? Haruskah kita mengakhiri segala jalan cerita yang telah kita
lewati bersama selama 4 bulan ini? Haruskah aku berjalan sendiri menyusuri hari
demi hari? Haruskah kita berpisah? Aku bukannya tak bisa hidup tanpamu. Aku
bukannya tak bisa bernafas tanpamu. Aku bukannya tak bisa bahagia tanpamu.
Tapi, aku tak bisa membayangkan secepat ini kita berakhir. “Kenapa? Kamu udah
gak sayang sama aku?” aku membalas pesannya sambil menahan air mata dengan rasa
sakit yang terasa perih. Dia hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan
ini semua. Tapi aku tetap masih menyimpan sejuta pertanyaan, salah satunya,
mengapa kamu tak bisa melanjutkan ini semua?
Perpisahan adalah akhir dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terkesan
menyenangkan, harus berakhir dengan kesan menyedihkan dan menyakitkan. Apalagi
berpisah dengan alasan yang tak pasti. Rasanya seperti hati disayat silet yang
amat tajam yang rasanya amat sangat perih. Lebih perih dari kita jatuh dari
sepeda saat kita belajar mengendarai sepeda. Rasa perihnya amat dalam. Sedalam
samudera. Tapi, rasa cintaku lebih dalam dari rasa perihku.
Cintaku sebesar dunia, setinggi langit di angkasa, kepadamu…
Cintaku sedalam samudera, seluas jagat raya ini, kepadamu…
Kelak kau kan menjalani
hidupmu sendiri, melupai kenangan yang telah kita lewati. Yang tersisa hanya
aku sendiri disini setelah detik demi detik berjalan bersama, menit demi menit
bergulir bersama, jam demi jam terlewati bersama. Dan hingga saat ini aku masih
tetap mencintaimu walau aku tahu kamu sudah tak ada sedikitpun perasaan lagi
padaku. Hingga saat ini, aku masih tetap menyimpan fotomu di telefon genggamku
walaupun aku tahu semua foto-fotoku di telefonmu sudah berganti menjadi
foto-fotonya. Tulisan-tulisan namaku yang dulu sering kamu tuliskan, mungkin
sekarang sudah berganti menjadi nama kekasihmu sekarang. Gantungan kunci yang
pernah ku berikan padamu mungkin sudah dibuang jauh-jauh, dan digantikan dengan
pemberian dari kekasihmu sekarang. Cerita yang telah kita lewati mungkin sudah
kamu lupakan dan menjadi kenangan terburuk bagimu, hingga sekarang kamu telah
mempunyai dan menggantikan cerita dulu bersamaku menjadi cerita masa kini
bersama kekasihmu sekarang.
Selama ini saat aku berada di dekatmu, kamu selalu membuat jantungku berdebar
sangat cepat tak karuan. Namun sekarang setelah aku melihatmu dengannya,
jantungku seperti berhenti berdebar. Selama ini saat aku menatap matamu, pipiku
mendadak menghangat dan wajahku memerah. Namun sekarang setiap aku menatap
matamu, aku merasa takut. Takut teringat akan masa lalu yang kian indah
sekaligus menyakitkan. Selama ini saat aku mendengar suaramu yang lucu, aku
serasa terbang melayang hingga langit ke tujuh. Namun sekarang aku serasa jatuh
ke jurang saat aku melihatmu dengannya, sakit rasanya, perih rasanya.
Selamat berbahagia kamu, Fadillah. Semoga kamu lebih bahagia bersamanya
daripada bersamaku. Semoga kamu lebih langgeng sama dia daripada sama aku.
Semoga hari-harimu lebih berwarna ketika kamu bersama dia daripada dulu saat
kamu bersamaku. Jangan pernah menyakitinya seperti kamu menyakitiku saat dulu.
Jangan kamu berikan janji-janjimu yang dulu pernah kamu ucapkan untukku. Aku
tetap sayang kamu tak peduli statusmu saat ini…
-The End-