Tuesday, December 18, 2012

What A Wonderful 5th Month Anniversary


Selasa, 18 Desember 2012
Ternyata, keindahan itu gak cuman di alam mimpi aja ya. Di dunia nyatapun sebenernya ‘keindahan itu ada. Tapi kitanya aja yang terlalu bodoh menganggap sebuah keindahan cuman bisa dirasain lewat mimpi. Sebenernya keindahan tuh ada di depan mata kita. Kitanya aja yang gak nyadar atau sebenernya nyadar tapi dengan sengaja ngebuat keindahan itu jadi rusak. Dan gue sendiripun awalnya nganggep kalo, sebuah keindahan cuman bisa dirasain di alam mimpi. Disana kita bisa ngerasain apa yang gak pernah kita rasain di dunia nyata. Disana kita bisa lebih sering tersenyum dibanding nangis. Disana kita bisa sering tertawa tanpa mengenal lelah. Disana kita bisa ngerasain indahnya bersama orang-orang yang kita sayang. Tapi ternyata gue salah. Keindahan itu ada di depan mata gue. Keindahan itu nyata. Ya walaupun keindahan sifatnya gak abadi, tapi seenggaknya gue masih bisa ngerasain apa itu yang dinamakan keindahan gak cuman di alam mimpi. Tapi di dunia nyata gue juga bisa ngerasain. Di dunia nyata gue juga bisa tersenyum, walaupun setelah itu harus ada tangis, tapi ya itulah hidup. Ada senyuman yang indah, lalu ada tangis yang bisa merusak segala keindahan kita. Di dunia nyata gue juga bisa ketawa. Bisa ketawa karna temen-temen gue, karna sahabat-sahabat gue, karna orang-orang terdekat gue, dan karna orang-orang yang gue sayang, termasuk dia, Aldy.
Hari ini tanggal 18. Anniversarry gue sama Aldy yang ke 5 bulan. Dan hari ini karna sekolah libur, kita janjian nonton film terbaru di Indonesia, 5cm, bareng sama temen-temen juga. Ada Awe, Oca, Irep, dan Fiko. Tadinya gue sama Aldy mau nonton Breaking Dawn part 2, tapi gue juga penasaran sama 5cm, akhirnya gue lebih milih film 5cm dibanding film favorit gue, Twilight Saga: Breaking Dawn.
Hari Senin kemarin, berganti hari Selasa. Tanggal 17 kemarin, berganti tanggal 18. Jam 23:59, berganti jam 00:00. Gue belom tidur saat itu, karna emang gue gak bisa tidur dan sengaja mau nungguin tepat 00:00 buat ngucapin anniv 5bulan ke Aldy. Dia pun juga belum tidur saat itu. Kalo dia sih gak usah ditanya, dia udah kayak kalong. Tidurnya bisa jam 1 atau jam 2. Atau bahkan bisa lebih-_- Tapi dia gak kebo kayak gue, hehehehe…
Malam udah berganti pagi. Dan gue bangun dengan hati yang gak seneng. Karna pagi-pagi bb gue signalnya udah jelek. Bener-bener gak bisa ngapa-ngapain. Bbm gak bisa, twitter gak bisa, pokoknya serba gak bisa. Akhirnya gue bangun tidur langsung nyalain laptop, langsung buka twitter. Dan pas baru buka langsung banyak mention masuk yang ngucapin anniv. Pokoknya hari ini yang udah ngucapin, makasih banyak ya.. Doanya pasti gue amin-in.. Hehehehe:-D
Nah, inti ceritanya nih pas di bioskop……
Gue gak mau ceritain apa yang gue lakuin selama film 5cm berlangsung. Tapi intinya, berada dipelukan orang yang kita sayang itu beribu-ribu juta kali lipat nyamannya. Jemari kita berada diantara jemari orang yang kita sayang itu beribu-ribu juta kali lipat rasa gak mau ngelepasin genggaman itu. Dan dicium pipi kita sama orang yang kita sayang, itu beribu-ribu juta atau bahkan beribu-ribu milyar atau bahkan beribu-ribu triliun kali lipat rasa nyamannya, rasa gak mau ngelepasin dia buat orang lain, dan bahkan rasa sayang itu semakin lama semakin tumbuh dan semakin berkembang.
Dan itulah apa yang disebut sebuah keindahan tak terduga yang gue alamin hari ini. Ini bukan mimpi. Ini bukan cerita khayalan. Ini bukan cerita dongeng. Ini bukan mitos. Tapi ini nyata. Ini real. Ini fakta.
Once more, happy anniversary 5month Fariz Agusta Reynaldi. I hope you always love me ‘till the end of world. I hope we always together ‘till we can get married someday. I love you. For now, tomorrow, after tomorrow, and as long as I can love you.
Love them which love you while they still lived nearby. Don’t love them just as they are no longer around you.

Friday, December 7, 2012

Rasa Ini


Pernah gak sih kalian ngerasa sayang banget bahkan cinta banget sama cowok/cewek kalian? Pernah gak kalian punya suatu harapan terbesar di hidup kalian bersama cowok/cewek kalian itu? Dan harapan itu baru kali itu kalian rasain seumur hidup kalian. Pernah gak kalian ngerasain kenyamanan yang amat sangat dalam pas kalian lagi sama cowok/cewek kalian? Pernah gak kalian ngerasain aman banget pas lagi sama cowok/cewek kalian?
Itu semua adalah rasa yang gue rasain saat ini ke cowok gue, Aldy. Baru kali ini gue ngerasa sayang banget bahkan cinta banget sama dia. Gue kayak baru ngerasa pertama kali jatuh cinta. Dia kayak cinta pertama gue, padahal sebenernya bukan. Tapi gue berharap dia jadi yang terakhir buat gue.
Gue mengharapkan sesuatu yang lebih besar dan lebih indah daripada harapan ‘dia jadi yang terakhir buat gue’. Harapan besar itu atau mimpi besar itu, yang tau cuman Allah, gue, dan Aldy. Tanpa kita sadari, kita punya mimpi besar yang sama. Dan baru kali ini kita punya mimpi sebesar itu. Gue tau, itu bakalan sakit banget kalo gak kesampean, tapi setidaknya gue punya mimpi. Daripada sama sekali gak punya mimpi, justru malah hampa hidup ini.
Kenyamanan. Hidup itu selain perlu sebuah mimpi, perlu juga sebuah kenyamanan. Nyaman berada di dalam keluarga yang harmonis, nyaman berada di lingkungan sekitar, nyaman berada bersama teman-teman dan sahabat-sahabat, dan nyaman berada bersama ‘dia’ yang suka gue panggil ‘aldy tempe lebay’. Jujur, kalo gue lagi sama aldy, gue ngerasa nyaman banget. Entah kenapa, berada dipelukan dia itu adalah suatu kenyamanan yang tak terhingga. Genggaman tangannya itu, bikin gue ngerasa gue adalah cewek yang paling beruntung karna bisa milikin dia. Dan dia adalah tempat paling nyaman nomer 4 setelah pelukan nyokap gue, tempat tidur gue, dan canda tawa, tangisan temen-temen dan sahabat-sahabat gue.
Tiap kali gue sama aldy pulang sekolah, kita selalu jalan berdua, kalo lagi gak berantem…… hehehe. Tapi kalo pacaran gak berantem, gak seru kan? Tapi kalo berantem terus gak seru juga-_- balik ke topik. Kalo lagi jalan berdua trus kalo ada motor atau mobil yang lewat dibelakang gue, dia selalu narik gue ke posisi yang aman. Kalo lagi nyebrang gitu, dia selalu nyebrangin gue. Kalo gue yang nyebrangin dia, dia selalu bilang ‘harusnya akulah yang nyebrangin kamu’. Walaupun gue tau emang seorang cowok harus gitu ke ceweknya, tapi baru kali ini gue diperlakukan seperti itu sama pacar gue. Kasian ya-__-
Gak pernah kebayang bisa pacaran sama cowok kayak dia gitu. Dia itu pacar ‘terbaik’ yang pernah gue pacarin. Berawal dari ‘greet bang’, sampe akhirnya sesayang ini sama dia. Cuman satu yang gak pernah gue pengenin, ‘gak mau dan akan pernah mau pisah sama kamu, dy’.

Thursday, October 25, 2012

All About Twentyseven

ALL ABOUT TWENTYSEVEN


Mungkin hanya lewat mimpi aku bisa merasakan kembali indahnya bersamamu. Mungkin hanya lewat lantunan syair lagu aku bisa mendengar kembali manisnya kata-katamu. Tapi dengan hanya satu tatapan dari matamu, aku dapat merasakan guncangan yang teramat dahsyat dari hati ini. Dan guncangan itu adalah guncangan rasa cinta dan sayang.
Kamu bisa pergi dari cerita cintaku, tapi kamu tidak akan bisa pergi dari cerita mimpiku. Kamu bisa hilang dari hadapanku, tapi kamu tidak akan bisa hilang dari hatiku. Cerita cinta kita memang sudah berakhir. Tapi cerita cintaku ke kamu belumlah usai. Masih terlalu banyak episode-episode cerita tersebut yang akan aku lewati. Dan tema dalam episode itu adalah, menunggumu tuk kembali.
Mulut bisa berbohong dalam kata-kata, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong dalam perasaan. Layaknya mulut dan hati ini. Mulutku bisa berbohong tidak memerlukanmu lagi. Tapi hatiku tidak pernah bisa berbohong jika aku tidak memerlukanmu. Dan hatiku berbicara “sungguh aku memerlukanmu”.
Ada satu pepatah mengakatan. “Cinta tak harus memiliki”. Padahal sesungguhnya cinta harus memiliki dan harus dimiliki oleh setiap kalangan masyarakat, layaknya aku mencintaimu dan aku bertekad untuk tetap menunggumu.
Untuk apa kita menyukai seseorang, kalau pada akhirnya kita tidak memilikinya? Untuk apa cinta itu ada di dunia kalu pada akhirnya tidak bisa dimiliki? Dan sungguh banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan pepatah tersebut.

Terpuruk aku dalam kebodohan karena menyayangi seseorang berinisial I yang sudah terlebih dahulu melupakanku. Galau, sedih, hancur adalah hal-hal yang aku rasakan sebelum aku bertemu dengan sosok pria yang ku impikan. Dia datang membawa suasana baru. Suasana yang membuatku tenang, membuatku kembali bangun dari kesedihan. Dia membawa kebahagiaan. Kebahagiaan yang selalu ku tunggu semenjak aku terpuruk dalam kesedihan, kebodohan, dan ketidak sadaranku karena telah menyayangi manusia sepertinya.
            Detik demi detik ku lewati bersama dia. Bercanda gurau bersama, berbagi cerita bersama. Menit ke menit terlewati. Setiap menit kita manfaatkan untuk saling mengenal satu sama lain. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu pun berlalu. Kita semakin dekat dan aku semakin mengenal watak dirinya. Tapi bodohnya aku yang masih saja menyayangi mantanku. Masih saja memikirkan manusia yang sudah menyakitiku. Dan masih saja aku mengharapkan untuk kembali bersama manusia itu.
            Minggu ke minggu telah kita lewati. Dia pun semakin perhatian denganku. Dia selalu mengingatkanku untuk makan dan istirahat. Dia selalu melarangku jika aku tidur tengah malam. Rasa curiga mulai terasa. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terngiang di otak ini. Mengapa dia begitu perhatian?
            Suatu hari aku sengaja bertanya padanya dengan sedikit agak memaksa. Cewek manakah yang menjadi tambatan hatinya? Awalnya dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Tapi akhirnya dia mau jujur padaku. Dia berkata “orang yang gue suka itu lo”. Seketika aku kaget. Tapi sebenarnya pada awalnya aku telah mempunyai firasat dia akan menjawab seperti itu. Dan ternyata. Firasatku benar.
            Jadi, selama ini dia sudah menyukaiku. Sejak pertama kita bertemu. Dia sempat mempunyai kekasih, tapi hanya setengah hati yang dia berikan pada kekasihnya tersebut. Dan selama ini dia sudah terlalu sabar mendengar ceritaku tentang manusia itu. Maafkan diri ini. Aku tidak tahu. Semenjak dia jujur padaku, semua agak berubah. Kita jadi jarang bercanda, jarang berbagi cerita lagi. Mungkin karena rasa malu.
            Cinta memang butuh pengorbanan. Pengorbanan untuk menunggu. Menunggu seseorang yang kita sayangi agar menjadi milik kita. Tapi, cinta itu sederhana. Karena cinta tak pernah melihat derajat seseorang, tapi cinta hanya melihat dari kesungguhan, kesetiaan hati.

            Biarkan cinta berjalan. Waktulah yang akan mengejarnya. Biarkan waktu memiliki kekurangan. Cintalah yang akan melengkapinya. Tapi, jangan biarkan aku berdiri sendiri tanpamu. Karena aku akan merasa lengkap bila kamu ada. Jangan biarkan aku berjalan menyusuri hari demi hari sendiri tanpa hadirnya kamu. Karena akan terasa lebih indah bila hari-hariku terlewati bersamamu. Seperti kata Rumor dalam lagunya Butiran Debu, “aku tanpamu, butiran debu”. Hari-hariku bila tanpamu bagaikan butiran debu yang bertebaran di meja. Jika debu itu di usap, maka akan hilang. Jika aku tanpa kamu, maka akan terasa hampa.
            Di masa-masa pendekatan ini, aku mencoba untuk lebih dalam mengenali watakmu. Dan aku juga mencoba belajar untuk mencintaimu dan melupakan manusia yang sudah memberikan harapan palsu padaku. Mungkin aku memang terlalu bodoh karena telah menyayangi orang yang salah. Dan aku amat sangat bodoh karena telah menghiraukan perasaan orang yang selama ini sayang padaku dengan tulus.
            Waktu malam pun tiba. Saat itu aku sedang berada di salah satu tempat rekreasi di DKI Jakarta, yaitu Taman Impian Jaya Ancol. Saat itu aku sedang menginap semalam di hotel Putri Duyung. Sendiri aku duduk manis di taman sambil menggenggam telefon genggamku. Tersenyum sendiri membaca isi pesanmu. “Lagi apa? Sudah makan? Jangan sampe kecapekan ya”. Itulah salah satu isi pesan singkat darinya. Begitu sayangnya dia padaku, sedangkan aku, aku selama ini telah menyakitinya. Aku telah membuatnya menunggu. Menunggu akan datangnya keajaiban. Keajaiban agar aku menyayanginya.
            Kita tak pernah menyangka. Kita juga tak pernah menduga. Apa, bagaimana, dan siapa yang menunggu kita. Tapi kita tahu. Dan kita percaya. Bahwa cinta akan selalu ada hari ini, esok, dan seterusnya. Cinta tak bisa berkata-kata. Cinta juga tak bisa member tanda. Hanya saja, perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai. Kita di dunia ini ditakdirkan untuk memiliki “cinta sejati”.
            Cinta bukan berarti selalu tertawa. Dan bukan berarti selalu bersedih. Cinta juga bukan berarti selalu mengetahui. Tapi, cinta berarti selalu memahami.

            Tahap demi tahap telah kita lewati. Perkenalan, pertemanan, pendekatan, sampai pada akhirnya kita berada di puncak dari segalanya. Aku tak pernah berpikir kalau kita akan sampai pada jenjang ini. Jenjang dimana kita akan lebih saling mengenal watak kita masing-masing. Jenjang dimana kita akan selalu bersama, bersatu, sampai takdir yang memisahkan. Dan jenjang dimana kita akan menguji segala sesuatu hal yang berhubungan dengan, cinta.
            Memang aku belum sepenuhnya sayang dengannya. Tapi aku akan terus belajar. Belajar untuk sayang padanya. Aku hanya butuh waktu. Karena waktulah yang akan membantuku disamping berusaha. Aku hanya ingin mencintainya dengan sederhana. Aku tidak akan perlu melihat apa yang dia punya dalam bentuk barang. Tapi aku sangat memerlukan apa yang dia punya di dalam hatinya dan hidupnya. Aku hanya perlu ketulusan, kepercayaan, kejujuran, yang selama ini belum pernah aku rasakan. Karena cinta ibarat sebuah tanaman yang harus diberi pupuk. Pupuk dari cinta adalah sebuah kejujuran, ketulusan, dan kepercayaan.
            “Lo mau jadi pacar gue gak?”. Itulah kata-kata yang dia ucapkan padaku disaat aku sedang dalam perjalanan menuju rumah. Aku hanya tersenyum terkejut melihat isi pesannya. Dan aku berpikir apakah aku akan menerimanya atau menolaknya. Belum sempat aku menjawabnya, baterai telefonku habis. Aku hanya membalas pesannya “Maaf hp gue abis batre nya. Ntar gue jawab ya”. Hanya itu yang ku jawab. Resah dan gundah gulana ku rasakan saat memikirkan apa yang harus ku jawab nanti. Aku bingung. Di sisi lain aku memang menyayanginya. Tapi di sisi lain juga aku belum bisa melupakan manusia berinisial I itu.
            Dalam perjalanan aku berpikir apa yang harus aku jawab nanti? Aku berpikir hingga tak sadar bahwa aku sudah sampai di rumah. Aku turun dari mobilku dengan masih berpikir. Menentukan pilihan itu memang sulit. Justru lebih sulit dari melupakan seseorang yang kita sayang. Aku takut untuk mengecharge telfonku. Karena aku belum menentukan pilihanku. Namun hati ini berkata “terimalah cintanya dan segera awalilah kisah baru dengan orang baru”. Dan pada akhirnya aku mengecharge telfonku dan segera menjawab pesannya, “gue mau jadi pacar lo”. Seketika dia tak percaya aku menjawab itu. Dan dia mengira aku terpaksa menjawab itu. Dan itulah awal dari hubungan ini. Saatnya menjalani hubungan ini…
            Aku akan berusaha memberikan cinta terbaik yang aku punya untukmu. Dan aku akan pastikan kalau hatiku hanya untukmu satu.

            Aku akan melewati kisah baru bersamamu. Aku akan merangkai kata-kata indah tentang kita di lembaran kertas putih yang baru. Aku telah menemukan benih cinta baru di hidup ini. Dan suasana hidup baru yang lebih indah dibandingkan dengan yang telah berlalu.
            Ragukan bahwa bintang-bintang adalah api. Ragukan bahwa titik-titik matahari bergerak. Ragukan kebenaran adalah kebohongan. Namun jangan ragukan bahwa aku sangat mencintaimu. Inilah hasil dari selama aku belajar untuk mencintaimu, tak mau berpisah denganmu.
            Mungkin kebanyakan dari manusia di dunia ini memperlakukan cinta seperti sebuah mainan yang bisa dibongkar pasang sesuka hati. Tapi untuk mencintaimu, aku akan memperlakukan seperti sinar matahari yang akan abadi.
            Hanyalah para kesatria yang mampu mencintai. Karena cinta adalah melindungi, menaungi, menghargai, kesetiaan, dan pengorbanan. Dan semua itu hanya mampu dihadirkan oleh para kesatria. Karena kamu memiliki semuanya, maka kamulah kesatria di kerajaan hatiku.

            Sehari berjalan….
            Bangun dari pagi hari yang cerah setelah tidur dengan lelap, ku lihat ada pesan dalam telefonku. Tidak lain tidak bukan pesan itu dari Fadillah. Yap, Fadillah adalah nama orang yang selama ini ku cerita dalam cerita ini. Lama sudah tak dapat ucapan “selamat pagi” dari kekasih. Indah tak terduga rasanya.
            Tiba-tiba suasana indah menjadi runyam ketika aku melihat mantannya Fadillah bersedih di salah satu jejaring sosial, Twitter. Memang saat itu Aurel, mantan kekasih Fadillah masih menyayanginya. Tak tega rasanya aku melihatnya. Aku merasa aku telah merebut Fadillah dari Aurel. Dan beberapa dari sahabatku ada yang tidak menyetujui hubunganku dengan Fadillah. Ku kirim pesan singkat untuknya “maaf kita putus.” Rasanya sakit sangat di hati. Baru saja menjalin, langsung berpisah.
            Setelah itu aku menghilang dari Twitter. Aku tidak membalas BBM dari sahabat-sahabatku. Aku tidak membalas pesan dari Fadillah. Aku juga tidak mengangkat telefon darinya. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya air mata yang jatuh berkali-kali.
            Tiba di sekolah. Aku berjalan masuk ke gerbang sekolah. Tepat di gerbang sekolah, aku disambut dengan melihat Fadillah bersama temannya yang sedang berjalan melewatiku. Kita hanya bertatap mata kesedihan sambil tetap berjalan. Aku melihat raut wajahnya sangat murung. Aku hanya dapat berkata dalam hati “maafkan aku Dill.”
            Selama di sekolah aku menutupi semua kesedihanku. Berpura-pura tertawa dan tersenyum. Padahal hati ini sudah terlalu remuk.
            Cinta butuh tersenyum. Cinta butuh menangis. Cinta butuh kebahagiaan. Cinta butuh kesedihan. Dan aku butuh kamu saat ini.

            Waktu pulang sekolah pun tiba. Saatnya untuk menyudahi berpura-pura tersenyum. Lelah dan sakit rasanya. Ku lihat Fadillah sudah pulang ke rumahnya karena rumahnya sangat dekat dengan sekolah. Aku ingat dulu ketika masa pendekatan, aku pernah ke rumah.
            Aku masih di jalan pulang ke rumah. Tiba-tiba telefonku berbunyi tanda pesan masuk. Ku lihat pesan itu dari Fadillah yang membujukku untuk melanjuti hubungan. Sedaritadi aku di sekolah, aku berpikir apakah akku akan melanjutkan atau benar-benar berhenti. Dan sampai saat ini aku belum menentukan pilihanku. Aku kebingungan bagaikan orang yang mencari-cari arah jalan pulang.
            Sesampainya di rumah, aku langsung memutuskan keputusanku. Aku dan dia saling menyayangi, dan mantan kekasihnya Fadillah juga sudah menerima semua kenyataan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini dan melanjutkan cerita indah nan bahagia ini.
            Aku baru saja kembali ke dunia yang sesungguhnya. Dunia dimana da kamu dan aku bersatu kembali. Dunia dimana bintang dan bulan selalu bersama di malam hari. Meluruskan masalah yang ada dan mengambil keputusan yang tepat adalah cara untuk mendapatkan hal yang sesungguhnya. Karena kesungguhan itu sederhana adanya.
            Hanya memandang raut wajahmu, hatiku tenang tak meragu. Hanya menatap senyummu, aku sanggup menghadapi dunia yang begitu keras. Tiada lain yang ku mau untuk hidupku ini. Hanya kamu yang ku mau, hanya dirimu yang ku inginkan.

            Kamu adalah cahaya pagi disaat aku terbangun dari tidurku yang lelap. Menyapaku dengan untaian kata yang seadanya. Mengingatkanku untuk melakukan aktivitasku di pagi hari. Menyemangatiku untuk tetap melangkah bebas di dunia yang keras ini. Dan menuntunku untuk melupakan apa yang telah berlalu, yang telah menjadi sebuah pelajaran. Masa lalu adalah tokoh sejarah. Masa kini adalah tokoh perjuangan. Masa depan adalah tokoh impian.
            Aku selalu saja menggenggami telefonku. Menunggu bunyi tanda pesan masuk di setiap saat. Di setiap bunyi itu aku selalu berharap pesan itu darimu. Aku selalu berharap kamu mengirimkan sepatah, dua kata manis untukku. Karena hanya dengan itu, aku bisa bahagia dan tersenyum cerah di pagi yang cerah ini. Karena untuk bahagia dan tersenyum itu sederhana.
            Embun di pagi buta, matahari yang berbinar-binar, awan yang merekah-rekah, bunga yang tumbuh subur, rerumputan yang basah, dan burung yang berkicau merdu adalah saksi dari kebahagiaanku di pagi ini. Aku bukannya tak pernah bahagia, tapi aku hanya baru saja merasakan kebahagiaan lagi setelah cukup lama aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi sebelum aku bertemu dengan, Fadillah…..
Sering, hanya dengan menatap senyummu, aku sudah merasa bahagia. Aku menyukai semua yang kita punya saat ini. Kehampaan yang dulu pernah singgah, perlahan-lahan pergi, sejak kamu di sini. Karena kamu adalah jawaban dari istilah ‘bahagia itu sederhana”. Cinta memang sederhana adanya. Namun manusia yang menjadikannya penuh ukiran rumit dan berbeli-belit kusut.
Kamu adalah pagi. Karena kamu selalu memberikan sebuah harapan. Kamu adalah pagi. Karena kamu selalu ada di doa yang terucap. Kamu adalah pagi. Karena kamu sudah membuat hariku penuh dengan cahaya gemerlap. Kamu adalah pagi. Karena kamu, cinta yang tak habis akan harap. Kamu bagaikan pagi hari yang cerah.

            Pagi yang cerah telah berganti siang yang terik. Saatnya untuk berangkat ke sekolah, bertemu dengan gedung sekolah yang walaupun sudah tua namun tetap kokoh, bertemu dengan para guru-guru yang mengajariku di setiap harinya, bertemu dengan teman-temanku yang selalu membuatku tertawa dikala sedih, dikala senang. Dan aku juga bertemu pujaan hatiku, Fadillah. Mungkin memang baru 2 hari aku menjalankan hubungan bersamanya, namun rasanya seperti sudah bertahun-tahun hidup dengannya.
Mungkin kamu tidak tahu, bahwa di setiap tutur doaku selalu menyebut namamu. Aku selalu meminta kepada Tuhan untuk menjagamu di setiap waktu hidupmu. Aku selalu memohon agar kisah kita tidak berakhir secepat kilat disaat hujan deras yang membasahi jalan. Meski aku harus terlelah dan letih, namun aku akan memenuhi hal positif yang kamu inginkan dariku. Karena itu semua demi kamu, sayang.
Tak sabar ingin bertemu, aku selalu membayangkan raut wajahmu di sepanjang perjalanan ke sekolah. Bila kamu tahu, di setiap langkah aku berjalan, aku selalu mempermainkan kisah dimana kita pertama bertemu dalam gerak lambat di benakku. Disana ada aku yang masih menyayangi mantanku. Dan disana ada kamu yang menyayangiku namun kamu setengah hati menyayangi kekasihmu dulu.
Aku sampai di sekolah. Tak ku lihat sosok dirimu ada di depan gerbang sekolah seperti hari kemarin. Aku hanya melihat guru-guru yang sedang asyik bercanda gurau dan murid-murid yang sedang berjalan menuju kelasnya, termasuk aku. Aku melewati kelasmu yang menjadi kelas paling awal dari semua kelas 1 SMP. Aku melihatmu. Kamu melihatku. Terjadilah saling bertatap mata dan saling memberikan senyuman manis, dan aku tetap masih berjalan menuju kelasku yang tepatnya adalah kelas ke 3 dari semua kelas 1 SMP.
Suasana di sekolah rasanya berbeda. Bagiku sekolah lebih berwarna karena adanya kamu di salah kelas di sekolah ini. Karena adanya kamu yang mewarnai kisahku, hariku, duniaku, dan sekolah kita ini. Bagiku kian.
Kamu bagaikan pensil warna yang mewarnai hariku dengan sebuah lekukan senyummu. Kamu bagaikan api yang membara yang menghangatkanku disaat aku disampingmu. Kamu bagaikan angin sepoi-sepoi yang selalu menyejukkan hatiku. Kamu adalah bahagiaku.

            3 bulan kemudian.........


Kita adalah dua sejoli yang saling menyayangi. Kita adalah dua ciptaan Tuhan yang di perintahkan untuk saling berbagi, mengasihi, menyayangi, dan mencintai. Tapi di suatu hari, kita bagaikan matahari dan bulan yang tak akan pernah bisa menyinari bumi secara berlangsungan. Saling bertengkar. Menyalahkan satu sama lain. Namun sesungguhnya, semua pertengkaran kita aku yang memulainya. Aku terlalu sering melarangmu untuk melakukan hal yang kamu sukai. Kamu ingin bermain bola di malam hari, aku selalu melarang. Kamu ingin bermain bersama temanmu selalu, aku larang. Aku terlalu egois untuk menjadi manusia yang dicintai. Aku selalu ingin kemauanku dituruti. Aku kira hanya dengan bersamaku kamu akan bahagia. Tapi ternyata aku salah. Kamu akan lebih bahagia hanya dengan bersama teman-temanmu. Bukan denganku, kekasihmu.
            Sekarang dan dulu berbeda. Kamu yang sekarang dan kamu yang dulu itu berbeda. Dulu, kamu selalu menemaniku setiap waktu, tapi sekarang kamu lebih mementingkan prioritasmu disbanding aku. Dulu, kamu selalu menyapaku dengan kata manismu di setiap paginya, tapi sekarang kamu hanya mengirimkan pesan di hari yang sudah lumayan siang dan telefonmu juga terlalu sering mati, disita, baterainya habis, dan alasan yang menurutmu aku akan percaya semuanya. Kenyataannya aku setengah hati tidak percaya. Kita yang dulu dan yang sekarang pun berbeda. Dulu, kita sering berdua, menikmati keindahan bersama, tapi sekarang kita lebih sering terpisah. Dulu, setiap bertemu di sekolah kita selalu memanfaatkan sedikit waktu untuk mengobrol, tapi sekarang kita hanya saling bertatapan bila bertemu. Tak ada kata, hanya perlakuan.
            Sudah empat bulan kita bersama, mengarungi keanekaragaman peristiwa. Dan salah satunya peristiwa pertengkaran yang hebat hingga membuatku harus menitikkan air mata di sekolah. Aku sudah berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata ke pipiku, tapi semua sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku sudah terlalu lelah menahan air mata di saat aku sedang mencoba untuk bertanya, apa kamu marah denganku karena aku sudah terlalu berbicara kasar padamu? Saat itu aku memang sedang dalam emosi yang luar biasa karena kita belum bertemu, belum saling menyapa sejak tadi. Malah yang kamu lakukan hanya bermain bersama teman-temanmu di kelas, bukannya berusaha untuk bertemu denganku. Aku berkata “terus aja main kuda tubruk, biar sekalian patah tuh tulang!”. Saat itu aku sangat emosi, marah, kesal karena melihat sikapmu seperti ini. Hingga akhirnya aku menghampirimu yang sedang bermain dengan temanmu. Aku kaget melihatmu yang sinis dengan keberadaanku disana. Aku betanya “marah ya?”. Kamu hanya diam, tanpa jawaban. Sudah berkali-kali aku bertanya, namun tetap sama. Tanpa jawaban. Akhirnya aku berlari sambil menangis ke kelasku yang dipenuhi dengan teman-temanku yang terlihat lebih peduli denganku dibanding kamu. Semua temanku bertanya “Samantha kenapa?”. Sedangkan kamu. Kamu dengan santai lewat depan kelasku dan tidak menghampiriku yang sedang menitikkan air mata. Sudah jelas kamu melihatku dengan mata kepalamu, aku sedang duduk sambil menutupkan wajahku yang penuh dengan air mata.
            Aku sempat berfikir akan mengakhiri hubungan ini, namun aku masih amat sangat menyayangimu. Hingga akhirnya aku membuat peringatan padamu, “sampe sekali lagi kamu nyakitin aku, aku akan akhirin hubungan ini!”. Tapi setelah beberapa hari, aku cabut peringatan itu karena sesungguhnya aku berat untuk melepasmu. Aku merasa berat jika nanti aku harus membiasakan diri berjalan menyusuri hari sendiri, tanpamu disampingku. Hingga saat pertengkaran itu, aku merasa hubungan ini sudah sepenuhnya berbeda. Sudah amat sangat berbeda dari hari yang lalu. Kita semakin berbeda pendapat. Tapi, aku masih tetap menyayangimu.
            Apakah aku harus bertahan? Untuk air mata? Untuk kebohongan dan kerahasiaan? Aku bukan patung kecil yang bisa tak diacuhkan. Aku bukan sekumpulan kunang-kunang yang tak terlihat sinarnya saat terang. Aku ini manusia yang sudah terlalu sering merasakan kesakitan ini semua. Namun, aku tetap tak pernah bisa menahan tetesan air mata di saat aku diacuhkan.
            Aku hanya ingin meminta satu permintaan dari Tuhan. Aku tidak mau diacuhkan lagi dengan orang yang aku sayangi…

            06, April 2012…
            Aku selalu tahu. Hari ini akan datang pada hubungan ini. Kita akan berpisah. Berdiri sendiri-sendiri dengan masa depan yang begitu banyak mimpi, banyak rencana yang kita genggam. Aku selalu tahu.  Setelah lama ada tawa, pasti akan tiba tangisan. Tapi aku tidak pernah memikirkan itu selama kita bersama menyatu.
            Aku akan berdiri sendiri dengan sejuta rasa sakit dan tak rela. Aku akan menjalani hidup yang akan kurang sempurna bila tanpamu. Sulit untuk mengucapkan “selamat tinggal” padamu. Tapi, ini maunya kamu dan mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.
“Maaf, kita lebih cocok jadi temen”. Aku kaget melihat isi pesanmu itu. Seakan-akan kamu sudah tak lagi menyayangiku. Yang kurasa hanya sedih, ingin menangis tapi tak bisa, ingin marah tapi aku hanya sendiri saat itu. Memang isi balasan pesanku mengatakan seperti aku rela melepasmu. Namun, sesungguhnya hati ini tak pernah rela melepasmu dan tak pernah rela. Tapi hari kemarin sudah kita lewati. Sekarang, kita sedang melewati hari ini. Hari dimana kita akan mengakhiri hubungan ini. Menutup buku cerita tentang kita berdua. Mengakhiri episode-episode film tentang kita berdua.
Haruskah kita berakhir cukup sampai disini? Haruskah kita mengakhiri segala jalan cerita yang telah kita lewati bersama selama 4 bulan ini? Haruskah aku berjalan sendiri menyusuri hari demi hari? Haruskah kita berpisah? Aku bukannya tak bisa hidup tanpamu. Aku bukannya tak bisa bernafas tanpamu. Aku bukannya tak bisa bahagia tanpamu. Tapi, aku tak bisa membayangkan secepat ini kita berakhir. “Kenapa? Kamu udah gak sayang sama aku?” aku membalas pesannya sambil menahan air mata dengan rasa sakit yang terasa perih. Dia hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan ini semua. Tapi aku tetap masih menyimpan sejuta pertanyaan, salah satunya, mengapa kamu tak bisa melanjutkan ini semua?
            Perpisahan adalah akhir dari sebuah pertemuan. Pertemuan yang terkesan menyenangkan, harus berakhir dengan kesan menyedihkan dan menyakitkan. Apalagi berpisah dengan alasan yang tak pasti. Rasanya seperti hati disayat silet yang amat tajam yang rasanya amat sangat perih. Lebih perih dari kita jatuh dari sepeda saat kita belajar mengendarai sepeda. Rasa perihnya amat dalam. Sedalam samudera. Tapi, rasa cintaku lebih dalam dari rasa perihku.
            Cintaku sebesar dunia, setinggi langit di angkasa, kepadamu…
            Cintaku sedalam samudera, seluas jagat raya ini, kepadamu…

            Kelak kau kan menjalani hidupmu sendiri, melupai kenangan yang telah kita lewati. Yang tersisa hanya aku sendiri disini setelah detik demi detik berjalan bersama, menit demi menit bergulir bersama, jam demi jam terlewati bersama. Dan hingga saat ini aku masih tetap mencintaimu walau aku tahu kamu sudah tak ada sedikitpun perasaan lagi padaku. Hingga saat ini, aku masih tetap menyimpan fotomu di telefon genggamku walaupun aku tahu semua foto-fotoku di telefonmu sudah berganti menjadi foto-fotonya. Tulisan-tulisan namaku yang dulu sering kamu tuliskan, mungkin sekarang sudah berganti menjadi nama kekasihmu sekarang. Gantungan kunci yang pernah ku berikan padamu mungkin sudah dibuang jauh-jauh, dan digantikan dengan pemberian dari kekasihmu sekarang. Cerita yang telah kita lewati mungkin sudah kamu lupakan dan menjadi kenangan terburuk bagimu, hingga sekarang kamu telah mempunyai dan menggantikan cerita dulu bersamaku menjadi cerita masa kini bersama kekasihmu sekarang.
            Selama ini saat aku berada di dekatmu, kamu selalu membuat jantungku berdebar sangat cepat tak karuan. Namun sekarang setelah aku melihatmu dengannya, jantungku seperti berhenti berdebar. Selama ini saat aku menatap matamu, pipiku mendadak menghangat dan wajahku memerah. Namun sekarang setiap aku menatap matamu, aku merasa takut. Takut teringat akan masa lalu yang kian indah sekaligus menyakitkan. Selama ini saat aku mendengar suaramu yang lucu, aku serasa terbang melayang hingga langit ke tujuh. Namun sekarang aku serasa jatuh ke jurang saat aku melihatmu dengannya, sakit rasanya, perih rasanya.
            Selamat berbahagia kamu, Fadillah. Semoga kamu lebih bahagia bersamanya daripada bersamaku. Semoga kamu lebih langgeng sama dia daripada sama aku. Semoga hari-harimu lebih berwarna ketika kamu bersama dia daripada dulu saat kamu bersamaku. Jangan pernah menyakitinya seperti kamu menyakitiku saat dulu. Jangan kamu berikan janji-janjimu yang dulu pernah kamu ucapkan untukku. Aku tetap sayang kamu tak peduli statusmu saat ini…



-The End-